Opini

Iin Solihin: Tugu dan Patung (Tak Lagi) sebagai Simbol Kesalehan

biem.co — Warisan nilai-nilai sejarah keteladanan dan kesalehan yang dipelajari di sekolah hingga tingkat universitas pada akhirnya tidak bermakna apapun bagi kehidupan. “Sejarah adalah kisah perjalanan kehidupan masa lalu yang sudah tuntas, tak memiliki faedah apapun dengan generasi saat ini,” tegas Filsuf tenar Karl Popper.

Sejarah sebagai fakta masa lalu tak memilki makna, tetapi bagi Karl Popper tergantung bagaimana kita sebagai generasi saat ini memaknai, mempelajari dan  mewujudkan nilai sejarah keteladanan dan kesalehan.

Apakah diwujudkan melalui simbol seperti berbentuk patung, tugu yang dibangun di pusat kota, melalui spanduk, surat imbauan kaum pemerintah atau melalui lagu partai politik yang dinyanyikan dalam rapat-rapat umum?

Karl Popper memaknai nilai sejarah berbentuk sindiran agak nakal dan sepintas  telah membuka “luka lama”, persis seperi lantunan syair lagu Rena KDI feat Sodiq, “bukankah engkau yang pinta, perpisahan kita dahulu, usah kembali kau buka, luka lama yang telah terpendam”.

Sejarah bukan sebagai “luka lama”, tapi amanah keteladanan yang mesti dirawat.

Nilai kesejarahan keteladanan setiap peradaban dan tokoh-tokoh hebat dimaknai secara variatif di berbagai tempat dalam mewujudkannya. Misalnya, di DKI Jakarta ada Monumen Nasional (Monas) dan patung tokoh pahlawan. Adapun di Provinsi Banten, ada pembuatan lampu-lampu hias bertuliskan Asma’ul Husna sebagai simbol “daerah religius”.

Sedangkan Tugu Asma’ul Husna yang tepat di Jalan Raya Pandeglang Serang, Kelurahan Cigadung, Kecamatan Karangtanjung, juga hadir menjadi simbol selamat datang yang mencerminkan kehidupan warga Pandeglang yang gemar beribadah

Tugu Asmaul Husna terlihat megah dengan variasi warna yang sedap dipandang mata. Tampaknya, kemegahan konstruksi bangunannya belum signifikan dapat membangkitkan rangsangan ingatan dan cita-cita sesuai harapan.

Hal itu tercermin melalui peristiwa yang terjadi di Kecamatan Keroncong, Kabupaten Pandeglang, dimana masyarakat di salah satu tempat tidak bisa melaksanakan salat ied dikarenakan tidak adanya khatib dan imam.

Hal lainnya juga juga terjadi di Kecamatan Majasari, bahwa masyarakat tidak bisa melaksanakan salat tarawih disebabkan satu-satunya seorang yang biasa menjadi imam salat tidak bisa hadir dikarenakan ikut terlibat pada acara safari Ramadan.

Informasi itu hadir disampaikan melalui sambutan H. Ghofar dari Staff Bupati Bidang Keagamaan Kabupaten Pandeglang yang mewakili Bupati Irna Narulita, saat membuka acara Rapat Kerja Forum Silaturrahmi Alumni Madrasah Masyariqul Anwar (FORSAMMA) Caringin, Labuan Pandeglang Banten pada 24-25 Agustus 2019 di Villa Samudera Carita.

Peserta yang ikut hadir dari kaum terpelajar, guru-guru, para ustaz, kiayi dan alumni lintas generasi, perwakilan seluruh cabang Madrasah Masyariqul Anwar Caringin tampak takjub menyimak pidato H. Ghofar dengan serius, bahkan terlihat enggan mengubah posisi duduk, apalagi menikmati makanan dan minuman yang tersaji sebelum pidato H. Ghofar tuntas.

Ghofar sayang tak memberi keterangan banyak, kapan peritiswa itu tepatnya terjadi dan bagaimana tindaklanjutnya. Tapi doa dan pujian patut diberikan pada H. Ghofar karena sudah mengingatkan, terlebih ajakan H. Ghofar sangat tepat kepada para peserta yang hadir di Rapat Kerja Forum Silaturrahmi Alumni Madrasah Masyariqul Anwar (FORSAMMA) Caringin untuk bersama-sama hadir untuk terlibat membantu menysikapi persoalan yang tengah dihadapi di masyarakat.

Informasi yang disampaikan H. Ghofar sebenarnya bukan hal yang baru, hanya sebagai upaya penegasan dan mengkonfirmasi ulang saja dengan Hasil Survei Melek Huruf Alquran dan Indikator Iman Takwa Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Provinsi Banten pada 23 Agustus 2017.

Hasil survei LPTQ kepada 1.505 responden dari total populasi penduduk 10.891.952 jiwa. Responden yang disurvei tersebar di 155 kelurahan/desa pada 50 kecamatan di 8 kabupaten/kota se-Provinsi Banten. Bahwa tingkat kemampuan muslim membaca Al-Quran di Banten masih rendah dari tingkat cukup sampai sangat buruk mencapai angka 76,72 persen.

Sementara yang terbilang mampu dari tingkat agak baik sampai dengan sangat lancar hanya 23,28 persen (Kabar Banten, 24 Agustus 2017).

Menurut Ketua Harian LPTQ Banten, Syibli Sarjaya, survei angka melek huruf Alquran dilakukan untuk mengukur indikator ahlakul karimah. Agar hasil survei diharapkan dapat menjadi acuan untuk menentukan arah program pembangunan yang bervisi ahlakul karimah.

SDM Unggul Indonesia Maju

Melalui segelas kopi hitam, dan tiga bungkus rokok yang sudah habis sambil diiringi lantunan syair lagu Kandas Evi Tamala, akhirnya saya sependapat dengan saran Tim survei LPTQ Banten, Prof. Lili Romli, bahwa kemampuan membaca Al-Quran di wilayah berjulukan “daerah religius” harus mendapat perhatian serius dan mesti adanya program salah satunya penyebaran guru ngaji dan memperbanyak pengadaan mushaf Al-Quran untuk masyarakat, karena banyak rumah tangga muslim di Banten yang masih harus bergantian membaca Al-Quran akibat minimnya ketersediaan kitab tersebut.

Suguhan ulasan di atas, diharapkan menjadi rangsangan ajakan dan ingatan bagi berbagai pihak seperti kaum pemerintah, organisasi-organisasi kegamaan di Banten, khususnya untuk menyikapi persoalan tersebut sebagai momen perayaan bersama melahirkan ide yang solutif.

Terutama melalui peran organisasi-organisasi kegamaan untuk duduk bareng atau Ernest Bormann (2010) menyebutnya sebagai “fantasi cita-cita” bersama, agar upaya ikhtiar menyatukan ide dan sumbang saran berbagai pihak selaras, senada satu tarikan nafas menuju kepentingan bersama.

Banten yang memiliki cita-cita “daerah religius”, ibarat seorang kekasih yang sedang terluka, sendu, rindu berat, butuh pelukan dan nasihat.

Maka melalui miniatur lampu-lampu hias dan tugu sebagai simbol “kesalehan” menjadi teguran untuk merekatkan kembali tali kasih dan sayang berbagai pihak untuk hadir mewujudkan cita-cita “daerah religius”.

Terlebih masih segar dalam ingatan, pada 26 Agustus 2019 para Anggota DPRD Kabupaten Pandeglang sudah dilantik, bahkan dilengkapi prosesi ritual “ijab qabul” berucap sumpah untuk menjalankan fungsi dan perannya dalam memperjuangkan kebaikan dan kemajuan masyarakat agar terbentuknya SDM unggul Indonesia Maju sebagaimana Filsafat Jawa Ki Hajar Dewantara Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handyani (didepan memberi teladan, ditengah memberi semangat dan dibelakang memberi kekuatan). Semoga! (red)


Penulis adalah Alumnus Magister Komunikasi Politik FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Editor : Happy Hawra

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *