Puisi

Sajak-sajak Edy Firmansyah

Oleh: Edy Firmansyah

 

KELILING KAFE DI PAMEKASAN

Ke Manifesco aku menuju bukan untuk nubuat
kata-kata manis atau  tawa kota yang penuh khianat
tapi untuk sebuah amsal
di mana ada kawan, di situ ada kebahagiaan

Tapi jika menjelaga sepi
melangkahlah aku  ke Cozy
espresso ini hari, pahit kopi tak abadi
atau putar arah ke jalan Amin Jakfar
Nirwana Cafe punya menu standar penguji rasa sabar

Bisa juga menuju selatan
di LokaCafe bersama pacar
kulihat Pamekasan menjelma museum usang
dalam langkah turis asing
berkali-kali bertanya tentang arah
sambil mengabaikan ratap pengemis bocah

Demikianlah saban insomnia
aku mencari rumah bagi puisiku
yang bersitahan menunggu kantuk kotaku

Inilah Pamekasan sekarang
sisa aroma kopi di mesin giling mini
bau tubuh para pelancong
meresap ke celah hidung masa depan
tak ada yang kuasa menahannya

Lalu embun dini hari jatuh perlahan
sebelum pecah berhamburan
menghantam tubuh aspal 

Pamekasan, Madura 2019

 

SUATU KETIKA DI MANIFESCO CAFE

Buat: Mapung Madura 

Buku,  puisi
dan gagasan asing
berdenting seperti nasib
sendok kecil saat digunakan
mengaduk kopi

Nasibmu berdenting seperti itu?
ataukah seperti suara nota pembayaran
yang diremas?

Malam gunting pita telah berakhir
tapi malam-malammu sepertinya tak akan berakhir
di tanganmu tergenggam nyala api puisi dan sangrai kopi
juga menu baru; nasi mangkuk saos pedas atau latte bunga matahari

Maka tiap kali lampu cafe dipadamkan
kata-kata dalam puisi akan terbakar
membakar yang tampak dan tak tampak
di hidupmu yang kadang tidur berjalan

Pengunjung mungkin hanya menikmati kopi
memanfaatkan wifi atau memuaskan selfie
mengabaikan kata dalam puisi
yang mengalir pelan, teramat pelan
seperti langkah sepasang kaki pemulung renta
dalam kantuk dini hari

Tiap kali matahari mengarahkan pandangnya
ke jendela kamarmu, rasakanlah hangat udara timur
meski dengan mata lelah, teramat lelah

Rasakan juga angin berpusing membawa tangan debu
menyimpan sidik jarinya di blender kopi
seperti kata demi kata dalam puisi
menyimpan hari esok

 2019

 

PADA OKTOBER

Dengan ranggas pohon jati
dan nanar matahari
Oktober  membakar dada aspal
membakar juga bayanganmu, pelan-pelan.

Dalam termangu sering kali kurasakan
angin jahat menyusup ke dalam tulang
melepuh sunyi di gersang hari
panasnya seperti demam infeksi

Debu datang menggempur
melilipkan mata, membantun kenangan duka
aku bertanya; di manakah cinta?
perempuan tua dengan koreng di wajahnya
menyentuh dadanya.

2018-2019

 

JAM KENCAN

Dengan ledakan kembang api
aku masuki sunyi kepedihanmu
tanganmu yang dingin
tanpa sengaja menyentuh kepedihanku
yang gagal diselamatkan
cinta masa silamku

Kota kota di tubuhku
merubuhkan gedung gedung
dari batu tangis dan tulang kemarahan
orang orang yang tak mengerti makna pembangunan
kecuali penggusuran

Matamu menatap wajahku
dan waktu tiba tiba kosong
kau ingin memilikinya
tapi waktu tak pernah bisa dimiliki siapapun
karena itu kau tak bisa memerangkapnya
jadi memori di wangi kerudungmu

Tapi aku punya sepasang jam kencan
kita bisa mengenakannya dan menyaksikan
detik demi detik berputar menyusun angka angka nasib yang bergetar
lihatlah!
yang berputar di tubuhku
berputar pula di tubuhmu
semesta berhenti
tubuh kita menerbangkan seribu balon rindu
menara menara itu mencakarnya
dengan kuku langit yang terbuat dari neraca dan laba
dengan begis. teramat bengis.

Kau menangis
tak ada yang tak menangis di bawah langit
aku memelukmu
tujun bidadari turun
menyulap traffic light
menjadi sepotong sajak cinta
tak ada yang tahu. tak ada yang pernah tahu
kecuali kita

Jam kencan terus berputar
menyeret kita ke jalan jalan kota
jalan penuh lampu dan hampa
tiapkali tangan kita bersentuhan
tiang tiang lampu itu menjelma jam malam
yang berdentang dan berdentang
nyawa kota tiba tiba
mati
kepedihan menggali kuburnya
dalam desah nafasmu
di bibirku

Madura, 2017-2019

 

MAYAT DI SUNGAI

Ada mayat-mayat di sungai
mengapung ke hilir malam

Siapakah yang membunuhnya?

Dentang jam malam
riuh
terbawa angin
anjing anjing neraka
melolong di atas jembatan
memanggil jiwanya yang kerdil
hatinya beku menggigil
bulan purnama merah
bumi banjir darah

Adakah berdarah
mata&telinga kita?

Kita tak punya senapan
atau dendam
cuma punya tanya
mayat-mayat di sungai yang mengapung
siapa membunuhnya?
apa sebabnya?
sebab tak ada yang mati
demi yang sia-sia.

Ada selongsong peluru
di tepi sungai
dan sebuah sepatu lars
lupa terbawa arus

Madura, 2019

 

PERISTIWA YANG TAK BIASA

Akhirnya segala akan tiba pada hari yang tak biasa
pada suatu masa yang telah lama kau rindukan
apakah kau masih mengharapkan  peristiwa ini lagi?

Kau tersenyum dan merebahkan tubuhmu  di dadaku
Sambil membenarkan rambutmu yang tergerai
di rerumputan

Matahari suram
angin dingin turun dari bukit-bukit yang temaram
Manuju lembah, dekat puing-puing sebuah sekolah
saat kita pertama bertemu
dan saling memandang
dengan jantung debar

Kemudian kau duduk
memandang matahari tenggelam
meresapi hari yang perlahan
memercikkan bintang-bintang

Apakah kau masih tenggelam dalam menunggu?
saat aku datang lagi hari itu, peluklah aku lebih mesra
lebih dalam, lebih dalam lagi
agar kurasakan detak jantungmu dalam jantungku
dan berbisik di telingamu;

“Setelah hari ini segalanya tak akan lagi sama
kecuali luka dan kekosongan
sebab aku datang
tanpa jejak kaki di rerumputan”

Pamekasan, 2019

 

DEMI PAGI

Demi hari di mesin cuci
demi padam lampu merkuri
demi bau deterjen
menyingkap pintu Senin

Demikianlah hidup yang sebentar
selalu bermula dari  pertanyaan

Siapakah aku, siapakah diri?
di antara antri menuju mesin absensi
dan bayang kampung halaman membuka mata
terdengar derit gema roda kereta 

2018-2019

 

DISUSUN KEMBALI

Bukan lambaian yang membuat segala iba
juga bukan ciuman yang membuatku
menunggu segalamu tiba
tapi kenangan
dan waktu
membuat segala yang pergi
selalu disusun kembali

Embun-embun akan mencair dipanggang matahari
dan akan turun lagi esok hari
rindu akan membongkar dirinya sendiri

Tak pernah ada yang tahu berakhir di mana kaki waktu
seperti juga aku tak tahu mengapa mencintaimu
cinta adalah kesunyian masing-masing

Tapi aku tahu
atas nama sisa cahaya matamu yang berserakan di mataku
atas nama segala yang berguguran dalam pergi
kau akan selalu disusun kembali
di hidupku

Madura, 2018

 

DI BANGKU TAMAN

Angin lalu saja
pada gugusan daun kenitu tua

Semilir kota
sungai meluapkan sisa hujan kemarin

Sementara kita masih di sini
di bangku taman
duduk berdiam-diam
tanpa saling memahami

Senja perlahan raib
cahaya berganti warna gaib

Tuhan, mengapa manusia tak bisa sepenuhnya bahagia?
dalam cinta
dalam rindu yang menyergap
tiba-tiba

Madura, 2019

 

DUA SAJAK PENDEK

I

Bulan jam pasir
malam dituang habis:
waktu nyala

II

Seekor lebah
mengitari genangan air di perlak
ada yang menyingsing
ada yang melenyap:
kemarin

Sampang, 2019

 

Tentang Penulis

Edy Firmansyah adalah penyair. Tinggal di Madura. Buku antologi puisi tunggalnya yang pernah terbit, antara lain: Derap Sepatu Hujan (Indie Book Corner, 2011) dan Ciuman Pertama (Penerbit Gardu, 2012). Beberapa Puisinya juga berserakan dalam antologi bersama, di antaranya: Dian Sastro For President! End of Trilogy (AKY&Insist Book, 2005) Tuah Tara No Ate: Bunga Rampai Puisi Temu Sastrawan Indonesia IV (Ternate, 2011), 100 Puisi terpilih Gelombang Maritim (Dewan Kesenian Banten dan SN Book, 2016), MENAPAK KE ARAH SENJA: Sepilihan Puisi Sastra Digital 2011-2014 (Buku Sastra Digital, 2017), Bima Membara (Halaman Moeka Publishing, 2012), Agonia: antologi penyair Jember-Jogya (IBC&Tikungan, 2012), juga tersebar di media cetak dan online seperti: Harian SURYA, JAWA POS, Radar Madura, Radar Surabaya, Pojokpim.com, dsb. Bisa dihubungi via twitter: @semut_nungging
Editor : Muhammad Iqwa Mu'tashim Billah

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Tulisan Ini Juga, Yuk!

Close