Cerpen

Cerpen Shiny Ane El’poesya: KARUMAYANIN

KARUMAYANIN
oleh
Shiny Ane El’poesya

I.

“… Jadi bagaimana?”

“Ya sudah.”

“Tetapi apa Kau …”

“Ya mau bagaimana lagi. Kalau memang sudah seperti itu, Aku harus mempersiapkan diri, agar tak mengecewakan banyak orang,” jawabnya sesaat.

Kembali lesap.

Yusuf pun perlahan membuka kedua matanya dan menarik nafas dingin yang menusuk dada.

II.

Sebuah parvis asap bagai menari-nari di langit cahaya. Abu-abu tembus cahaya. Mengental bagai susu dari hulu alir baha, mengering dari bening, membentuk rihmis murna. Sedang, Yusuf terus melafalkan dzikir-dzikir heningnya,

“O… Karumayanin
yang putik langit tergantung
musim panas dan musim dingin
Yang dadaku degup memanjat
padaMu, Aku …

Ingin menyatu denganMu
dalam bisik dan ketar-ketir
dalam kecup karpel Pohon Suci
yang diciptakan kembali
oleh dosa-dosa kemenandaji. O…

Karumayanin
Pada penciptaan ini kita kali
kembali, menelan dan masuk
pada tengah waktu yang remuk
jantung, kehilangan khusuk.

III.

Tak ada satu pun penduduk yang akan percaya, jika tubuh Yusuf adalah tempatnya segala yang bocor dari alam sana, yang mengapung tepat di pusar setiap enyu pori-porinya. Sebab, memang tiada yang harus percaya kepadanya.

Kehidupan di luar adalah kisah-kisah orang-orang sempurna, sedangkan Yusuf adalah hanya seorang penggahala. Orang-orang hanya sekadar percaya, bahwa jika tengah terjadi hal-hal aneh yang muncul di kampungnya, ia harus mendatangi Yusuf dan memintanya untuk sebuah kasturat mantra. Yang itu juga sesungguhnya bukanlah merupakan sebuah mantra.

Kasturat adalah merupakan sebuah kasturat. Ia adalah sebuah dzikir-dzikir rahasia yang tak diberinya nama. Namun, karena dikenal kemanjuran-kemanjurannya, masyarakat pun hendak menamainya. Entah sebenarnya untuk apa, tetapi konon sebagai cara mereka ingin memuja melalui sebuah yang bernama.

Ya! Tentu, Yusuf tak menginginkan orang-orang yang datang kepadanya agar menyerahkan waktu hidup untuk menyembahnya. Ia adalah seroang manusia biasa sebagaimana manusia lainnya. Anak seorang manusia yang …  sebenarnya, Yusuf sendiri memang tak pernah mengetahui asal-usulnya.

Sejak kecil Ia tinggal bersama seorang kakek tua yang pernah berjanji akan memberitahunya mengenai asal-usulnya di masa lalu sebelum genap usia 9 tahun. Namun, sebelum Yusuf menginjakkan umurnya di usia 7 tahun, Ia sudah ditinggalkan oleh kakeknya tanpa pesan apapun.

Kakeknya, meninggal dalam keadaan tengah duduk di atas balai rumah gubuknya, saat cahaya oranye menyiram daun-daun hutan yang kering; di sanalah tempat tinggal mereka.

IV.

Yusuf terus melafalkan dzikir-dzikirnya yang semakin hening; Dzikir Azdabdzir.

Karumayanin Pun akhirnya jatuh di dalam pangkuannya. Jatuh tersungkur dari sebuah gaib badai yang berputar. Jatuh sebagai seorang perempuan, dengan rambut tergerai, mata tenggelam emas, tubuh tergolek telanjang dan basah, payudara mungil tanda lengkung benting dan pantul telaga. Melenguh di bibirnya batin. Dan denyut nadi terasa di pergelangan tangannya. Pula harum kasturura menghiasi lengut keringatnya.

Kebangkitan, baginya adalah 50.000 tahun perjalanan, dari alam kahyangan kepada alam Yusuf. Dan 50.000 tahun mawar berikutnya, kepada alam dunia.

Ia, bersama Yusuf selama berhari-hari tak sadarkan diri.

V.

Setelah mendengar suara guruh petir selama kurang lebih tiga hari tiada henti, dari atas Gunung Kamlati, para penduduk cemas. “Adakah yang tengah terjadi?” Sebab mereka berpikir bahwa tiada keberadaan tanpa sebuah kejadian besar, tanpa tanda-tanda yang keluar dari alam besar.

Mereka terus berdoa, sebagaimana manusia-manusia yang telah kehilangan bahasa. Ya, bahasa yang disebut sebagai media untuk menyampaikan pesan kepada sesiapa. Mereka berdoa, hanya menyebut ulang apa yang pernah mereka simpan melalui mata. Dan dengan doa-doa yang mereka sendiri tak mengerti apa maknanya, hanya sebatas berkeyakinan bahwa beroda menggunakan bahasa yang Maha Kuasa adalah cara sebaik-baiknya, yaitu, dengan menyebut-nyebut ulang apa yang telah dialami penduduk desa,

“Di jendela hutan desa, angin bergerak bagai gelombang menabrak, seperti tangan waktu yang bergerak hendak, mengambil segala yang tertidur dan terjaga, dan menggenggamnya bersama padi-padi hijau dan air di sungai-sungai yang mengalir secara cuma-cuma, yang masing-masing setiap bagiannya memiliki lembar-lembar jendela yang lainnya.

Di jendela hutan desa, angin bergerak bagai gelombang menabrak. Engkau mengambil seluruh anak-anak, tubuh yang lebih dekat dengan alamnya ketimbang dengan tawa bahagia warga desa, yang hanya berbalut keharuan manusia, pada kehidupan yang sementara. Lantas engkau menciumnya, sesaat ketika kami tengah melihatnya beranjak meninggalkan masa-masa udupa.

Di jendela, di hutan desa, angin bergerak bagai gelombang menabrak. Kami bersama-sama melihatnya, kematian menyerang dua ratusan nyawa.”

Tiada henti mereka berdoa. Tiada henti mereka ulang kembali bagian-bagian terberat yang dianggapnya sebagai puncak dari kesengsaraan yang menimpa. Anak-anak, hilang bersamaan bayang-bayang, ketika malam jatuh dari kabut langit rahasia.

Tiada henti mereka berdoa. Sungguh tiada henti mereka berdoa sehingga, muncul lah sebuah tanda yang hanya terbaca, lagi-lagi olehnya hanya sebagai tanda tanpa kejelasan makna.

Angin-angin laminsir ternyata berembus dari penjuru bukit. Menyela setiap jendela-jendela rumah, dan …

….…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….. dan seluruh perempuan di desa itu terpisah nyawa.

VI.

Namun, para lelaki yang tengah berdoa di tengah-tengah altar perbaiktian tak satu pun yang mengetahuinya. Mereka hanya menjalankan apa yang sepertinya harus dijalankan, demi menolak kutuk dan penderitaan.

Sampai, mereka benar-benar telah melihat tanda, dan begitulah sebuah tanda, datang kemudian dari rahang hutan keluar sebuah pendar cahaya yang makin gendelap.

“Yusuf! Yusuf! Lihatlah, kalian semua. Itu Yusuf!” Orang-orang hambyar dari perbaktiannya, dan berdesak di bibir pandang.

“Yusuf! Yusuf! Lihatlah, lihatlah. Itu Yusuf!”

Orang-orang mulai bersorak, dan sebahagiannya bersorak tanpa kendali hingga menepuk-nepukkan tangannya di kepalanya masing-masing.

“Yusuf! Yusuf! Lihatlah, lihatlah. Itu Yusuf! Ia membawa berkah!”

Yusuf pun terus berjalan. Semakin dekat dan semakin dekat ke tengah-tengah orang-orang, dengan mata menatap ke depan tanpa sedikitpun hirau dengan keadaan.

Namun …

Namun aneh, semakin Yusuf mendekat dan benar-benar berada di tengah-tengah penduduk, mereka seakan tiba-tiba kehilangan kata-kata melihat apa yang tengah dibawa oleh Yusuf. Kalaupun iya, mereka begitu gagap meski hanya bisik-bisik.

Waktu seakan berhenti beberapa saat.

VII.

Tubuh itu tidak menyimpan bangkai dan masa lalu di tubuhnya. Tempat siapa saja merasakan kernyit dan kegetiran. Kesedihan dan kepedihan. Sepi dan kesunyian. Tiada tanda-tanda tangis yang bisa dipecahkan ketika orang melihatnya. Hanya kegembiraan dan perasaan kuat untuk terus …

“Ya, sebagamana kalian lihat. Kini aku membopong tubuh seorang gadis mungil, yang jelitanya sebagaimana kalihan lihat. Yang keindahannya, sebagaimana telah mengunci pintu-pintu perbalah lidah kalian karena tak pernah melihat yang serupa. Yang, pakaiannya tidak lain adalah hanya kulitnya sendiri, yang lembut dan sebab kelembutannya membuat air mata kalian berkilau-kilau permata bagai tersinari cahaya rembulan. Lantas, apa yang telah kalian minta? Selain, kembalinya seorang anak?

Maka saat ini, telah dipersembahkan langit, sehingga Aku dengan jantung terbelah mengantarkannya kepada kalian. Lantas apa yang akan kalian lakukan? Sebab langit telah memerintahkan agar kalian semua secara bersamaan menggauli gadis ini?”

VIII.

Karumayanin.

O…
Karumayanin …

yang putik langit tergantung
musim panas dan musim dingin
Yang dadaku degup memanjat
padaMu; Pohon Suci, Aku …

Melihat lelaki-lelaki itu seperti
seekor lebah yang telah lama
tak pernah melihat cahaya kecuali
setitik di malam hari; bulan yang
mengusir lebah lain dari sarangnya
namun tak menyadarinya

Melihat mata lelaki-lelaki itu seperti
mata seekor rubah yang telah lama
melingkari sebuah titik dari balik pohon,
mengawasi paha, dada, dan punggung
sebuah hewan buruan

Melihat lelaki-lelaki itu, seperti sekaligus
mendengar engah anjing-anjing yang
kerap berkeliaran di bawah berperangnya
lingkar cahaya dan lingkar gerhana.

O…
Karumayanin …

Dan Engkau pun berdiri, tegap di depan
pisau takdir yang akan menyayatmu
membelahmu; berkoyak-keping seraya
berkata:

“Yusuf. Pada tubuh ini, aku akan habis mati
Pergilah, jangan mendekat sampai terbenam
ekor fajar yang akan terasa begitu panjang nanti
dan kau, harus membopongnya kembali–sore itu
kepada asalku ketika pertama mengenalmu
kepada tempat, di mana Aku tak bisa lagi.”

IX.

Singkat cerita, lelaki-lelaki di desa itu pun menggauli Karumayanin dengan penuh berahi sepanjang malam, melewati pagi, dan terus bergantian berkali-kali hingga di penghujung sore ketika gelap malam pun tak sanggup tiba lagi untuk menutupi kegelapan yang tengah terjadi.

Sore itu; semuanya tiba-tiba berhenti. Kecuali Yusuf,
desa dan Karumayanin tak ada lagi.

Cirebon, 02:35AM 27/04/2020 Shiny.ane el’poesya

 

 

Editor : Irwan Yusdiansyah
Tags

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ragam Tulisan Lainnya
Close
Back to top button