Cerpen

Cerpen Rega Pratama: Ibu Panti Ingin Bertemu Anaknya

biem.co — Telah terjadi penculikan yang tak sengaja terekam CCTV. Ketika membaca surat kabar itu, aku tertawa saat mengetahui ada anak panti yang hilang. Ibu Panti, sang narasumber, yang membeberkan ciri-ciri pelaku: memakai hoodie hitam polos, celana jeans coklat, dan topi hitam bergambar daun ganja. Berita itu semakin terdengar menggelikan bagiku ketika narasumber mengaku mengenal sang pelaku.

“Sungguh Nat, berita ini harus segera diluruskan atau justru tak usah masuk koran…” Natali terdiam, ia memandang kemacetan jalan raya oleh mobil box yang beberapa saat lalu bannya meledak. “aku rasa, Ibu Panti terlalu berlebihan.”

Natali berpaling, air mukanya tak terima dengan perkataanku. “Kamu memang selalu begitu, menyalahkan apa pun yang dilakukan Ibu Panti.” Ia melengos lagi, tangan kanannya menyambar gelas teh yang masih panas.

Aku membuang muka pada pengunjung lain di kafe itu. Mereka tertawa riang, saling melempar candaan meskipun kadang diselingi debat yang alot. Ada sebuah keluarga kecil di antara pengunjung di sana. Seorang suami yang mengajak istri dan seorang anaknya. Anak itu masih kecil, mungkin seusiaku saat masuk panti asuhan dulu. Lantas tanpa aku sadar mengapa, mataku mulai berkaca-kaca melihat mereka. Melihat anak itu dipeluk, dicium, oleh keluarganya yang hangat. Dan seketika pikiranku terbang berandai-andai. Jika saja aku seperti anak itu, mungkin aku tak akan masuk panti, tak mengenal Ibu Panti dan berita itu tak akan aku baca.

“Boleh aku bertanya sesuatu…” Natali meletakkan gelas teh itu sedikit keras, entah karena menahan panas atau sengaja menggertak. “kenapa kamu selalu diam saat kita bicara soal Ibu Panti?”

“Jangan menuduh.”

“Kenapa?” sorot mata Natali menatapku serius. Ia memang selalu seperti itu, penasaran dengan segala sesuatu, bertanya ini-itu yang seharusnya tak dibahas saat berdua.

“Karena kalau kita membicarakan Ibu Panti di sini, nanti bisa-bisa kupingnya berdengung. Kan dia sudah tua, kasihan.”

“Nggak lucu!”

“Memang aku tidak sedang melucu. Berita ini sungguh lebih lucu.” Aku mengambil koran itu, menyodorkannya pada Natali, tapi ia menolak.

“Sekalinya bicara Ibu Panti, kamu menjelekkannya.”

“Ya memang begitu adanya. Lihat, kalau memang Ibu Panti mengenal pelaku, mengapa tak temui saja dia?”

Natali memutar-mutar telunjuknya ke gelas teh yang berangsur dingin. Kopi di depanku belum juga berkurang sedikit pun. Ampas biji kopi mengendap ke dasar, seperti perasaanku yang selama ini mengendap. Aku tahu tak pantas menertawakan berita itu di depan Natali. Bagaimana pun, dari teman-teman pantiku, hanya dia yang kembali dan mengabdi di sana. Tentu berita itu pukulan telak bagi pengurus panti.

“Kau tahu?” Natali memandang pohon-pohon yang tumbuh di trotoar. “Keadaan panti banyak berubah. Sudah jarang sekali ada orang yang peduli dan memberikan sumbangan. Orang-orang yang ingin mengadopsi juga berkurang, hingga Ibu Panti harus mengeluarkan keputusan itu.”

Aku terdiam sejenak dan mengingat bagaimana sosok perempuan yang kami panggil Ibu itu kukuh pada keputusannya. Bagiku itu adalah keputusan yang celaka, tapi bagi teman-temanku itu adalah jalan keluar dari masalah.

Satu tahun yang lalu, aku, Natali dan teman-teman panti yang sudah bekerja diundang Ibu Panti untuk musyawarah. Masalahnya sama seperti kata Natali barusan. Tetapi tetap saja aku tidak setuju dengan keputusan Ibu Panti yang tergesa-gesa itu. Sebagai pertimbangan, aku memberi solusi jika uang gajiku setiap bulan akan kusumbangkan separuhnya. Tak ada yang mendukungku. Mereka semua diam, malah ada yang mebanding-bandingkan gaji.

“Memang gajimu berapa? Sok dermawan, buat makan saja susah.”

Yang lain menyahut, “Keputusan Ibu Panti memang yang terbaik, apa salahnya mendukung ibu kita sendiri?”

Waktu itu Natali belum jadi pengurus panti. Ia duduk di sebelahku. Bisa aku lihat dari ekspresinya ia bimbang. Ia tak mau jadi anak durhaka karena menentang titah seorang Ibu, meskipun dia bukan ibu kandung kami.

Aku tetap menolak meskipun hanya satu suara yang bilang tidak. Masih banyak jalan keluar untuk masalah itu. Aku memberikan beberapa hal yang mungkin bisa jadi pilihan. Wirausaha, peternakan, pertanian. Tentu itu lebih berguna bagi anak panti dibanding keputusan Ibu Panti. Anak-anak panti bisa mengurus semua itu, dibantu kami. Tetapi ada yang aneh dengan Ibu Panti. Bukannya tenang mendapat saran, ia justru kepanikan.

“Tidak!” Ibu Panti menggebrak meja. Seumur-umur aku baru melihat Ibu Panti melakukan itu. semua orang melirik padaku, seolah menyalahkan perbuatanku. “Keputusan ibu ini sudah bulat, terserah kalian setuju atau tidak.”

Orang-orang tersenyum, termasuk Natali, kecuali aku. Cih! Aku jijik melihat senyum mereka. Berlaga penurut di depan Ibu Panti, tapi lihat saja ketika mereka ngopi, kalau tidak menggunjing Ibu Panti, ya pakai ekstasi.

Lantas tiba-tiba suara telpon terdengar, Ibu Panti membuka telpon lalu pergi begitu saja dengan tergesa-gesa. Diam-diam aku membututinya. Di depan teras dengan lampu yang sedikit remang, Ibu Panti berkata lirih pada seseorang di seberang telepon.

“Semua berjalan sesuai rencana, aman. Besok tinggal eksekusi.”

Aku mendengar suara itu samar-samar. Tak ketara siapa orang yang bicara dengan Ibu Panti, tetapi setelah itu raut muka Ibu Panti berubah dari panik menjadi ketakutan. Aku sengaja tak kembali ketika ia masuk ke dalam rumah. Dan itu adalah terkahir kali aku menginjakkan kaki di Panti Asuhan Ibu Panti.

***

“Itu bukan keputusan, Nat, tapi ke-ter-pak-sa-an.”

“Keadaan yang memaksa!”

“Bukan…” di pohon-pohon yang tumbuh di trotoar perhatianku tertuju. Sebuah baliho iklan ‘Adopsi Anak Bagi Keluarga Yang Membutuhkan’ terpasang pada batang pohon dengan kain yang lusuh dan cat yang pudar. Kalimat itu terdengar seperti iklan dagangan. Apa yang mereka pikirkan, membisniskan panti asuhan?

“Percayalah padaku, Nat, ada seseorang yang memaksa Ibu Panti.”

Ngaco! Pikir dulu kalimatmu kalau bicara, kualat kapok nanti!”

Aku tak menjawabnya. Bagaimana pun aku tahu perasaannya jika mendengar itu. Seperti saat aku mendengar percakapan Ibu Panti. Sulit dipercaya dan mustahil. Natali mengambil gelas teh yang sudah dingin. Ia meneguknya habis. Entah karena memang haus atau karena suasana semakin panas.

Senja mulai menampakkan wajahnya di langit. Kawanan burung dara berkelebat menuju sarangnya. Aku menyukai kafe ini, kafe yang bisa menghadirkan sunyi dan riuh seketika. Dinding yang sengaja dibuat mayoritas berbahan kaca menghadirkan langit yang tenang dengan awan-awan yang terasa serasi dengan jalan kota yang rami lancar. Mobil box itu sudah hilang sejak Natali tak lagi mengawasi jalan. Kali ini perhatiannya jatuh pada toko bunga di seberang jalan.

Aku pernah menceritakan sebuah kejadian di toko bunga itu pada Natali, saat aku menemukan seorang anak yang tidur beralaskan kardus bekas dan berbantal tumpukan koran. Anak itu seorang loper koran yang hidup sendiri di Kota Pendidikan tanpa mengenyam bangku pendidikan. Mungkin aku lebih beruntung karena sebelum masuk panti Nenek Idjah sudi menampungku. Melihat anak itu, seperti melihat diriku, Natali, dan anak-anak panti yang lain. Barangkali apa yang pernah kami rasa dan tanyakan sama dengan anak itu. Mengapa hidup sekeras ini? Lantas dengan rasa iba, aku mengajak anak itu ke panti. Dan kejadian ini juga yang membuat berita itu terdengar lucu. Seorang mantan loper koran sekarang masuk koran dalam berita kehilangan. Atau bagaimana berita itu salah, bukan hilang tapi melarikan diri lalu menemui wartawan dan bilang jika ada anak yang hilang di sebuah panti. Semua bisa terjadi.

“Ted,…” Natali berpaling dari toko bunga itu, “apa kamu percaya kalau perasaan seorang ibu selalu benar?”

“Aku tak tahu, kalau kau mau tahu jadilah ibu-ibu dulu.”

“Aih, aku serius!” Natali meletakkan kedua tangannya di meja, merekatkan jari-jarinya, lalu kembali memandangku, “kamu ingat waktu Ibu Panti menebak siapa yang memecahkan vas bunga?”

Ya aku ingat kejadian itu, tak ada yang mau mengaku. Tetapi Ibu Panti mengumpulkan kami, seolah menguji kejujuran kami. Setelah masing-masing dari kami diberi pertanyaan, Ibu Panti terus mengejar Natali dengan pertanyaan, seperti introgasi. Dan siapa sangka, memang Natali yang memecahkan vas bunga.

“Ibu Panti akhir-akhir ini sering bertanya tentangmu, kabarmu, tempat tinggalmu, pekerjaanmu. Ibu ingin bertemu denganmu, Ted.”

“Aku tak mau.”

“Ayolah, jangan terus memperkeruh keadaan, Ted. Ibu sudah mengakui kesalahannya, ia menyesal tidak mendengarmu saat musyawarah dulu. Kamu bisa lihat, sekarang kandang-kandang ayam sedang dibangun, kebun-kebun ditanami pohon buah. Itu semua karena kamu.”

Natali terus meracau tanpa menyadari sesuatu dalam berita itu. Kebiasaanya tak berubah, hanya mendengar cerita bukan membaca berita itu secara tuntas.

“Pokoknya aku tak mau! Kau bisa mengerti itu bukan?”

“Aku bisa, tapi kamu tidak pernah bisa mengerti kalau aku tidak punya keluarga selain Ibu Panti, kalau restunya berlaku penuh bagiku!”

“Memangnya apa yang dikatakan Ibu Panti padamu?”

“Ibu ingin bicara denganmu, empat mata.”

Plang! Kalimat itu seperti sebuah jurang dengan batuan lancip di bawahnya. Siapa saja bisa tergelincir jatuh ke dalamnya. Ini semacam jebakan, memanfaatkan Natali untuk membawaku ke panti. Dan sialnya siasat itu sedang bekerja. Natali terus merayuku agar ikut ke panti dengan dalih perasaan, restu ibu, durhaka, dan tetek bengek lainnya. Kami saling berdebat, bertukar alasan mengapa harus datang dan mengapa jika tidak. Natali tak mau kalah soal ini, sampai telepon di saku celanaku bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal : “Aku sudah selesai nganter koran, Mas Tedi di mana?”

Aku meraih koran itu, membukanya lebar-lebar menutupi pandangan Natali ke wajahku. Ia memang tak pernah membaca berita secara akurat, tetapi ia seorang perempuan dan aku percaya jika perasaan seorang ibu selalu benar. Aku baca berita itu sekali lagi pada bagian ciri-ciri pelaku yang entah mengapa bisa sama persis dengan pakaianku, berjaket hoodie hitam polos, celana jeans, dan topi gambar ganja.

Klaten, 2020


Rega PratamaTentang Penulis: Rega Pratama lahir di Klaten, 4 Agustus 1998. Menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi maritim di Yogyakarta. Memiliki hobi menulis cerpen dan puisi. Beberapa cerpen menjuarai perlombaan di Yogyakarta, salah satunya dalam Pekan Jurnalistik Universitas PGRI Yogyakarta tahun 2019 dan 2020. Saat ini aktif berkesenian menjadi penyair panggung dan bergabung dalam komunitas Forum Rekap Asa (Frasa) di Solo, Surakarta.

Editor: Esih Yuliasari

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button