CILEGON, biem.co — Semangat kemerdekaan berkobar di Situ Rawa Arum, Kota Cilegon, Minggu (16/8/2026). Forum Potensi SAR Banten bersama para relawan berhasil membentangkan bendera Merah Putih berukuran 20 x 10 meter di atas permukaan air dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Mengusung tema “Gelora Merah Putih di Rawa Arum — Satu Bentangan, Seribu Semangat untuk Indonesia”, kegiatan tersebut berlangsung lancar dan zero accident.
Namun, di balik kemeriahan pembentangan Sang Saka, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk kembali mengingat sejarah Rawa Arum sekaligus mendorong perhatian lebih serius terhadap arah kebijakan Pemerintah Kota Cilegon dalam menata kawasan tersebut.
Merah Putih dan Ingatan Sejarah Rawa Arum
Tokoh masyarakat Rawa Arum, Husen Saidan, mengatakan bahwa pembentangan Merah Putih di Situ Rawa Arum seharusnya tidak dipandang hanya sebagai seremoni peringatan kemerdekaan.
Menurutnya, Rawa Arum memiliki sejarah dan nilai penting bagi masyarakat yang perlu terus diingat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Perjuangan itu harus terus kita ingat. Jangan sampai generasi hari ini hanya melihat Merah Putih berkibar, tetapi tidak memahami bagaimana perjuangan dan sejarah yang ada di balik tempat ini,” ujar Husen.
Ia menilai momentum kemerdekaan dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan kembali bagaimana Rawa Arum dikelola, dilestarikan, sekaligus dikembangkan tanpa menghilangkan sejarah dan kepentingan masyarakat di sekitarnya.
“Merah Putih ini bukan hanya simbol negara. Di dalamnya ada semangat perjuangan, pengorbanan dan persatuan. Ketika dibentangkan di Rawa Arum, kita berharap masyarakat juga kembali mengingat sejarah tempat ini dan perjuangan orang-orang terdahulu,” katanya.
Soroti Kebijakan Pemkot Cilegon
Husen juga menyinggung kebijakan Pemerintah Kota Cilegon terkait rencana penataan dan pembangunan Situ Rawa Arum sebagai destinasi wisata.
Ia menilai proses penetapan dan perencanaan tersebut perlu dilakukan secara lebih hati-hati, terbuka dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, terutama masyarakat yang memiliki keterikatan sejarah dan kepentingan langsung terhadap kawasan Rawa Arum.
Husen menyoroti adanya persoalan koordinasi antar instansi dalam proses tersebut.
Menurutnya, pemerintah harus memastikan setiap tahapan kebijakan berjalan sesuai prosedur dan tidak sekadar mengejar target menjadikan Rawa Arum sebagai destinasi wisata.
“Jangan sampai pemerintah berjalan sendiri-sendiri. Rawa Arum ini punya sejarah, punya masyarakat, dan ada aturan serta prosedur yang harus diperhatikan. Koordinasi harus diperkuat sebelum sebuah kebijakan ditetapkan,” tegasnya.
Ia bahkan menilai terdapat indikasi bahwa proses penetapan Rawa Arum sebagai destinasi wisata belum sepenuhnya mengikuti prosedur dan tata kelola yang semestinya.
Karena itu, Husen meminta Pemerintah Kota Cilegon melakukan evaluasi serta membuka ruang komunikasi yang lebih luas dengan masyarakat dan pihak-pihak terkait.
Pernyataan tersebut menjadi relevan dengan adanya surat Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kota Cilegon Nomor 500.13/262/PAR tanggal 13 Juni 2026 perihal permohonan fasilitasi rapat rencana penataan dan pembangunan Situ Rawa Arum menjadi destinasi wisata di Kota Cilegon.
Bagi Husen, rencana pengembangan wisata bukan sesuatu yang harus ditolak.
Justru, pengembangan dapat menjadi peluang besar bagi Rawa Arum dan masyarakat sekitar. Namun, prosesnya harus dilakukan dengan perencanaan yang matang, koordinasi lintas sektor, penghormatan terhadap sejarah lokal, serta pelibatan masyarakat sejak awal.
“Kalau memang mau dijadikan destinasi wisata, silakan. Tetapi jangan melupakan sejarah dan masyarakatnya. Jangan sampai pembangunan justru menghilangkan identitas Rawa Arum,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah tidak hanya melihat Rawa Arum dari sisi potensi ekonomi dan pariwisata, tetapi juga dari sisi sosial, budaya, lingkungan dan sejarah.
Persiapan Relawan Satu Minggu
Sementara itu, Ketua Forum Potensi SAR Banten, Taufik Hidayat bersama Ketua Pelaksana, Muhammad Sidiq menjelaskan bahwa kegiatan pembentangan Merah Putih telah direncanakan sekitar satu minggu sebelum pelaksanaan, dengan persiapan teknis intensif selama tiga hari.
Sejumlah kendala ditemukan, terutama kondisi air yang relatif dangkal dan warna air yang menjadi pertimbangan dalam menentukan teknis pembentangan.
Namun, seluruh persoalan tersebut dapat diantisipasi dengan persiapan dan pengalaman personel.
Forum Potensi SAR Banten menurunkan personel yang telah terlatih dan memiliki kompetensi dalam kegiatan di perairan. Tim tersebut sebelumnya juga beberapa kali melaksanakan pengibaran Merah Putih di laut dengan personel yang sama.
“Kami menurunkan teman-teman yang memang sudah terlatih dan berkompetensi. Sebelumnya kami juga sudah beberapa kali melaksanakan pengibaran Merah Putih di laut dengan tim yang sama,” jelasnya.
Hasilnya, seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar tanpa kecelakaan.
Sementara itu, Ketua Pokja Relawan Banten Lulu Jamaludin berharap kegiatan serupa ke depan mendapatkan dukungan yang lebih besar sehingga aksi-aksi kebangsaan dan kemanusiaan dapat dilaksanakan dalam skala yang semakin besar.
“Kami berharap ke depan bisa semakin mendapat support yang luar biasa, sehingga kegiatan seperti ini bisa dilaksanakan lebih besar lagi,” harapnya.
Pembentangan Merah Putih di atas Situ Rawa Arum akhirnya tidak hanya menjadi simbol perayaan kemerdekaan. Ia menjadi momentum untuk mempertemukan semangat perjuangan, sejarah lokal, pengabdian relawan dan harapan masyarakat terhadap masa depan Rawa Arum. (Arief)








