OpiniReview

Belajar dari Penjual Sayur Keliling

Follow Twitterku @mariahmare, ya!Oleh: Mariah Ulfa | @mariahmare

Ketika itu saya dalam perjalanan pulang dari rumah saudara menumpang bus Kopaja P20 jurusan Senen-Lebak Bulus. Seperti biasanya, Kopaja P20 seringkali ‘ngetem’ di samping Gedung Trakindo, sebelum masuk tol. Nah, saat lagi ‘ngetem’ itu, saya seperti biasa juga suka memerhatikan kondisi sekeliling di luar bus.

Ada seorang ibu penjual tanaman yang biasa berjualan di samping Trakindo itu, seorang gadis pengamen yang sedang menggendong seorang balita mungil, dan seorang bapak penjual es kelapa. Tiba-tiba, lewatlah seorang bapak penjual sayur keliling dengan gerobaknya, melewati bapak penjual es kelapa dan gadis pengamen dengan balitanya. Sampai sekitar tiga langkah dari gadis pengamen tersebut, sang bapak penjual sayur itu berhenti tepat di depan ibu penjual tanaman.

Awalnya, saya pikir sang bapak penjual sayur keliling tersebut ingin ikut bergabung dengan mereka. Tetapi ternyata, sang bapak tersebut kemudian mengambil dua buah pisang yang dijualnya dan memberikannya kepada sang gadis pengamen dan balita yang digendongnya. Sang gadis menerimanya dengan senyuman lantas kemudian menghampiri sang bapak penjual es kelapa yang terlihat lelah dan diberikannya satu pisang yang baru saja diterimanya.

Semua yang ada di sana, baik bapak penjual es kelapa, gadis pengamen dengan balitanya, maupun sang ibu penjual tanaman tersenyum bahagia. Guratan bahagia itu memancar dari wajah mereka. Dalam hidup mereka yang mungkin ketika dilihat sekilas dengan mata serba kekurangan, ternyata mereka masih bisa berbagi dengan sesama. Tamparan bagi siapapun yang melihatnya. Lalu, apa kabar dengan kita? Yang masih memiliki kelebihan harta untuk membeli sesuatu yang diinginkan tanpa berpikir itu bukanlah suatu kebutuhan. 

 

Editor : Redaksi

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *