OpiniReview

Hari Pahlawan, Asep Mulya Hidayat Ingatkan Pentingnya Jaga Budaya

 

biem.co – Sepuluh November merupakan tanggal yang memiliki makna penting dalam sejarah revolusi nasional Indonesia, karena itu tanggal 10 November ditetapkan sebagai Hari Pahlawan Nasional agar semua masyarakat mau mengenang jasa-jasa pahlawan yang telah mengabdikan dirinya demi menjaga dan mempertahankan Indonesia.

 

Zaman dahulu, pahlawan adalah mereka yang mengangkat senjata guna meraih kemerdekaan. Sedangkan untuk masa kini, pahlawan ditujukan bagi mereka yang dapat memperjuangkan dan berupaya mendorong peningkatan kualitas diri orang-orang di sekitarnya, sehingga dewasa ini, setiap orang dapat menjadi pahlawan. Bentuk kepahlawanannya pun beragam. Ada pahlawan di bidang pendidikan, kesehatan, pembangunan, maupun di bidang sosial. Karena nilai-nilai kepahlawanan itu hadir ketika seseorang memberikan pengabdian bagi kemajuan masyarakat.

 

Di momentum peringatan hari Pahlawan Nasional ini, biem.co berhasil mewawancarai salah satu Aparatur Sipil Negara (ASN) muda di Banten yang cukup berpengaruh, Siapakah beliau? Beliau adalah bapak Asep Mulya Hidayat. Bagaimana hasil wawancaranya? Mari kita simak di bawah ini!

 

biem.co: Selamat siang, Pak. Sebagaimana kita tahu bahwa 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional. Apa esensi kepahlawanan bagi tokoh muda seperti bapak?

 

Asep Mulya: Selamat siang sobat biem. Esensi kepahlawanan bagi saya adalah kita jangan melupakan jasa-jasa para pendahulu kita. Sehingga dengan tidak melupakan jasa-jasa para pendahulu kita tersebut, kita dapat menjaga semangat juang dalam rangka persatuan dan kesatuan bangsa. Di samping itu, menurut saya esensi semangat kepahlawanan adalah kebersamaan dan nasionalisme. Dewasa ini semangat itu harus diwujudkan dengan menyamakan persepsi serta menggalang kekuatan untuk menghancurkan wujud lain dari kolonialisme. Wujud lain itu seperti kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan berbagai permasalahan sosial lainnya.

 

biem.co : Sebagai salah satu Aparatur Sipil Negara (ASN) muda yang berpengaruh, bagaimana seharusnya anak-anak muda Banten mengisi kemerdekaan sebagai bentuk menghargai jasa para pahlawan?

 

Asep Mulya: Untuk mengisi kemerdekaan, hal tersebut dapat dimulai dengan melakukan kewajiban sebagai warga Negara. Menurut UUD 1945, kewajiban Warga Negara seperti wajib membela pertahanan dan keamanan Negara, wajib menghormati hak asasi orang lain dan mematuhi pembatasan yang tertuang dalam peraturan, wajib menjunjung hukum dan pemerintahan, wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain, dan lain-lain.

 

Di samping itu, isilah kemerdekaan dengan menjadi produktif atas diri kita sendiri. Sebagai contoh, Jika kita memiliki kemampuan untuk menulis, secara aktif buatlah tulisan. Lakukan secara rutin agar kita menghasilkan tulisan yang bermanfaat untuk orang lain. Dari sana kita dapat memberikan pengetahuan baru bagi orang lain dan turut mencerdaskan anak bangsa dengan cara yang menyenangkan dan mungkin tidak di sadari. Untuk pelajar, belajarlah dengan sungguh-sungguh agar bisa meraih prestasi yang baik. Prestasi yang baik bukan hanya pencapaian untuk diri secara pribadi namun juga mengharumkan nama bangsa. Untuk mahasiswa, Jangan hanya menjadi mahasiswa yang pergi kuliah dan pulang ke rumah atau kosan. Jika ada waktu luang, carilah kegiatan. Apapun itu asalkan positif dan menyenangkan. Bergabunglah dengan organisasi yang sesuai dengan minat maupun kemampuan. Update tentang info-info yang penting baik itu info beasiswa kuliah di luar negeri, berita kriminalitas, maupun update tentang ilmu-ilmu dan jurnal-jurnal baru. Dan masih banyak hal-hal positif lainnya yang seharusnya dilakukan anak-anak muda dalam mengisi kemerdekaan.

 

biem.co: Kita sering mendengar jargon "Indonesia adalah bangsa yang besar", menurut bapak di mana letak kebesaran Indonesia sebagai bangsa dan apa yang harus anak-anak muda banten lakukan demi menjaga kebesaran daerah dan bangsanya pada dunia?

 

Asep Mulya: Sejauh ini besar hanya secara fisik, luas, beraneka ragam (keunggulan komparartif) mari kita kapitalisasikan hal diatas menjadi keunggulan kompetitif, dengan meningkatkan seluruh kemampuan di berbagai bidang, mulai fokus pada hal disukai dan pelajari secara sungguh-sungguh.

 

biem.co: Anak muda khususnya di Banten tidak bisa lepas dari budaya asing yang datang melalui arus globalisasi, baik itu penggunaan teknologi informasi atau lainnya. Sebagai tokoh muda yang banyak mengenal budaya asing, menurut bapak budaya asing seperti apa yang dapat merusak identitas kedaerahan kita?

 

Asep Mulya: Banyak budaya asing yang dapat merusak identitas kedaerahan, salah satunya tercermin dari cara berpakaian banyak anak muda kita yang berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya Barat. Mereka menggunakan pakaian yang minim bahan yang memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak kelihatan. Padahal cara berpakaian tersebut jelas-jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan gaya rambut dicat beraneka warna. Sikap individual yang perlahan mulai tertanam di diri para anak muda, hedonisme, dan lain-lain.

 

biem.co: Apa saran bapak bagi anak-anak muda Banten dalam mengantisipasi gempuran globalisasi agar tidak terkena arus negatifnya?

 

Asep Mulya: Saya berharap anak-anak muda Banten dapat menyaring budaya asing yang masuk ke Indonesia dengan gempuran globalisasi yang terjadi. Ambil budaya yang baik, tinggalkan budaya yang buruk. Dan Langkah-langkah untuk mengantisipasinya adalah antara lain dengan cara, menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai produk dalam negeri, menanamkan dan mengamalkan nilai- nilai Pancasila dengan sebaik- baiknya, melaksanakan ajaran Agama dengan sebaik- baiknya dan selektif terhadap pengaruh globalisasi di bidang politik, ideologi, ekonomi, sosial budaya bangsa.

 

Sebagai identitas bangsa, budaya lokal harus terus dijaga keaslian maupun kepemilikannya agar tidak dapat diakui oleh negara lain. Walaupun demikian, tidak menutup kemungkinan budaya asing masuk asalkan sesuai dengan kepribadian negara karena suatu negara juga membutuhkan input-input dari negara lain yang akan berpengaruh terhadap perkembangan di negaranya.

 

biem.co: Terimakasih ya, pak. Sangat inspiratif. Semoga tidak lelah untuk terus berkarya dan berbagi Inspirasi. (ega/esih)

Editor : Esih Yuliasari

Related Articles

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *