InspirasiOpini

Ramadan; Meraih Kejayaan Universal

Oleh Asep Abdurrahman*

biem.co — Di setiap masa, umat membutuhkan kebenaran yang tidak melihat simbol formal kebenaran, tetapi lebih kepada nilai-nilai kebenaran yang menyatu dengan kehidupan sosial sebagai bentuk aktualisasi yang membumi tanpa melihat dari mana sumber itu dimunculkan.

Untuk memastikan kebutuhannya, setiap Muslim sudah pasti merindukan kedatangan bulan Ramadan. Karena di dalamnya melimpah segala kebaikan universal bagi manusia untuk menjawab persoalan kehidupan di tengah-tengah kebenaran parsial yang menggerus nilai-nilai universalisme kebenaran.

Pada saat yang sama kegelisahan menghinggapi ummat, Ramadan datang menawarkan nilai-nilai kebenaran universal, mendekatkan diri untuk menjadi sahabat yang kekeringan spiritual karena hiruk-pikuk kehidupan yang jauh dari kedekatan kepada Khaliqnya. Untuk menjawab itu, Allah SWT menurunkan kitab suci di bulan Ramadan sebagai panduan hidup di dunia agar kehidupan lebih terasa aman, tentram, damai menuju situasi dan kondisi yang akan melahirkan kejayaan universal.
Belajar dari Sejarah

Salah satu kekayaan agama samawai adalah mempunyai kebenaran yang tidak luntur ditelan zaman. Sampai kapan pun kebenaran universal itu akan tetap mempunyai ruh selama dijadikan pijakan yang benar untuk meniti hidup yang penuh dinamika ini.

Dalam sejarah umat Islam, Ramadhan mencatatkan momen penting. Pada zaman Nabi dan Sahabat, Ramadan dijadikan sebagai bulan prestasi. Umat Islam menjadikan bulan suci ini sebagai wadah untuk melakukan karya-karya besar, perjuangan-perjuangan strategis dengan kemenangan-kemenangan universal yang strategis.

Dalam perjuangan dakwah Islam, pada waktu inilah kaum muslimin generasi pertama mendapatkan sejumlah prestasi yang luar biasa. Di bulan Ramadan, ratusan orang menyatakan diri masuk Islam. Saat 10 Hijriyah, pernah seribu orang Thaif masuk Islam, kaum yang sebelumnya sangat memusuhi Islam. Pun, pada tahun 11 Hijriyah, ratusan orang Yaman menyatakan diri memeluk Islam.

Bahkan, umat Islam banyak memenangkan pertempuran-pertempuran yang terjadi pada Ramadan. Perang Badar, yang meletus pada 17 Ramadan, ditaklukkan oleh umat Islam. Satu-satu kemenangan diraih di bulan suci, seperti perang Khandaq, juga proklamasi Fathul Mekkah.

Baca juga: Makna yang “Hampir” Hilang

Tak hanya di zaman Nabi. Dinasti Abassiyah, dilahirkan saat bulan Ramadan. Di waktu ini pula, Panglima Uthbah bin Nafi menaklukan penaklukan Afrika pada 56 H. Pada tahun 99 H, Thariq bin Ziyad menyeberang dari Afrika Utara ke daratan Eropa. Masa itulah, pertama kali umat Islam menginjakkan kaki di daratan Eropa.

Tahun berikutnya, di tahun 100 H, umat Islam memperoleh kemenangan-kemenangan strategis. Misalnya, Salahuddin Al Ayubi berhasil mengembalikan Masjidil Aqsha ke tangan umat Islam.

Di bidang keilmuan, ulama-ulama melahirkan ragam karya tulis yang bernilai monumental. Imam Muhammad Idris Asy Syafi’i, umpamanya, menelurkan sejumlah karya-karya besar pada bulan  Ramadan. Karyanya yang monumental, Fiqih Al ‘Um, sampai sekarang diterbitkan lebih dari puluhan ribu kali. Tidak kurang 250 juta umat Islam mengikuti pendapatnya di bidang Fiqih (KH. Miftah Farid dari Pikiran Rakyat).

Maka pembaca, tak malukah kita jika hanya menjadikan Ramadan sebagai momen sambil lalu saja. Padahal, Rasulullah SAW telah menganjurkan kita semua untuk bergembira ketika bertemu bulan Ramadan. Sebab di bulan inilah, pintu-pintu rahmat dan maghfirah terbuka lebar. Maka, mari persiapkan Ramadhan sebaik-sebaiknya. Jadikan Ramadan bulan teristimewa untuk meraih kesucian, juga kesempatan bertaqarrub kita kepada Allah SWT.

Mari kita kembali mengkaji QS Al Baqarah: 183, target dan tujuan berpuasa di bulan Ramadan adalah bukan hanya demi meraih kepasrahan dan pengabdian kepada Allah. Namun, juga harus memberikan dampak bagi mereka yang melaksanakan ibadah puasa. La’allakum tattaqun. Agar dengan berpuasa, seseorang menjadi pribadi yang unggul dan takwa.
Kejayaan Universal Bukan Parsial

Beragam keutamaan di bulan Ramadan. Ramadan adalah bulan ibadah dan bulan menundukan hawa nafsu, bulan taqarrub, penghambaan dan pengorbanan kepada Dzat Pencipta, agar terbentuk pribadi yang taqwa dan siap taat kepada Allah SWT.

Akan tetapi, faktanya tidak demikian. Ramadan demi Ramadan berlalu begitu saja tanpa adanya perubahan yang signifikan pada kondisi dan pemahaman umat ke arah kebaikan. fakta menunjukkan makin jauhnya umat dari gambaran masyarakat yang Islami sebagai Khoiru Ummah, kerusakan terjadi di segala sisi umat akibat kemaksiatan dan berbagai pelanggaran Hukum Syara’ karena ketidak-taqwaan sebagian besar umat. Di samping itu, umat Islam seharusnya menjadikan Ramadan sebagai bulan perjuangan Syari’at Islam. Ramadan bukan sekedar bulan ibadah, tetapi juga bulan perjuangan fii sabilillah. Seperti pada masa Rasulullah dan para sahabat, banyak terjadi peristiwa penting pada bulan Ramadan, seperti Perang Badar, Futhuh Makkah, dan lain sebagainya.

Baca juga: Agar Ramadan Berbuah Taqwa

Hal ini memberikan dorongan yang jelas bagi umat Islam saat ini, untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk membangkitkan nilai-nilai kebenaran, dengan perjuangan menerapkan panduan hidup dalam wadah ketertiban, keamanan, kedamaian agar tercipta perubahan secara universal, bukan hanya secara parsial, yakni terbentuknya masyarakat yang mempunyai kesadaran secara keseluruhan. (red)


 

Asep Abdurrahman, adalah Dosen Fakultas Agama Islam Univ. Muhammadiyah Tangerang dan Pengajar SMP Daarul Qur’an Internasional Tangerang.

Rubrik ini diasuh oleh Fikri Habibi.

Editor: Redaksi

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button