KabarKesehatan

BPOM Sarankan Jangan Gunakan Albothyl untuk Sariawan

Kandungan policresulen tidak disarankan untuk indikasi bedah, dermatologi otolaringologi, stomatologi (penyakit mulut), dan odontology

biem.co — Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)  resmi bekukan izin edar Albothyl, obat yang mengandung policresulen itu memiliki risiko yang lebih besar dibandingkan untuk menyembuhkan sariawan.

Hal ini menanggapi surat yang ditujukan kepada PT Pharos Indonesia. Melalui situs pom.go.id, BPOM menerbitkan penjelasan terkait isu keamanan obat mengandung policresulen cairan obat luar konsentrat 36 persen tidak terbukti secara ilmiah sebagai obat luar. Kandungan ini diduga yang terdapat dalam produk Albothyl.

Dalam promosinya Albothyl mengklaim dapat menyembuhkan sariawan.

Namun, menurut surat edaran tersebut, policresulen tidak disarankan untuk indikasi bedah, dermatologi otolaringologi, stomatologi (penyakit mulut), dan odontology.

Disisi lain, dalam surat tersebut tidak ada penjelasan terkait kandungan tersebut tidak diperbolehkan untuk sariawan atau luka mulut lainnya.

Seorang dokter gigi, Widya Apsari, susah membeberkan tentang bahaya penggunaan Albothyl sejak tahun 2014 di akun Twitter-nya.

Widya menceritakan tentang seorang pasien berusia 32 tahun yang telah meninggal akibat kanker parah di bagian mulutnya.

Awalnya pasien tersebut mengeluh sariawan di bibir dalam. Diteteskanlah obat Albothyl. Alhasil sariawannya membesar dan harus dibawa ke instalasi gawat darurat.

Setelah dirawat 3 hari di rumah sakit, bengkak di bibir berkurang, namun luka sariawannya makin membesar dan bahkan sampai membentuk lubang.

Dalam tulisannya di Kompasiana, Widya menyebut, policresulen adalah suatu polymolecular organic acid, yang memiliki efek hemostatik atau menghentikan pendarahan, membentuk jaringan nekrotik (jaringan yang mati) dan merangsang pembentukan jaringan baru.

Pendapat tersebut didapatkan Widya setelah membaca salah satu laporan di jurnal European Review for Medical and Pharmacological Sciences.

Dilansir dari laman Tribunnews, menurut Widya, saat policresulen diberikan pada luka di rongga mulut atau sariawan, yang terjadi adalah efek vasokonstriksi atau penyempitan pembuluh darah perifer (tepi) di sekitar sariawan.

Hal ini menyebabkan suplai darah di area sariawan terhenti dan menjadikan jaringan sariawan mati.

“Hal ini menjelaskan mengapa rasa perih pada sariawan sesaat hilang setelah diberikan policresulen baik secara ditotol maupun dikumur, yaitu karena jaringan sariawan menjadi mati,” ungkap Widya (15/02/2018).

“Kalau mati ya sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi,” jelasnya.

Widya juga menambahkan, jika suatu jaringan mati, maka secara otomatis tubuh akan berusaha melepaskan jaringan tersebut atau bisa disebut dengan “deskuamasi jaringan”.

Sementara, PT Pharos angkat bicara terkait surat BPOM tentang Albothyl yang beredar di media sosial.

Manager PT Pharos, Imawan, mengatakan, BPOM hanya memberikan peringatan bagi masyarakat supaya hati-hati saat memakai Albothyl ketika mengatasi sariawan.

“Sebenarnya, pemakaian Albothyl untuk sariawan diperbolehkan dan tidak berbahaya, namun dipakainya dengan cara diencerkan terlebih dahulu. Karena kandungan policresulen hanya sedikit,” ujar Imawan, Kamis (15/2/2018).

Imawan menambahkan, pemakaian obat ini hanya untuk area intim wanita lebih tepatnya.

Karena kandungan policresulen bisa digunakan untuk mengobati segala jenis penyakit kulit, kecuali bagi penderita kanker.

Sejauh ini, untuk penarikan produk belum dilakukan oleh pihaknya. BPOM RI telah mengirimkan surat kepada PT Pharos dan sedang dikaji terlebih dulu.

“Kami akan perbaiki keterangan pemakaian obat untuk sariawan. Jawaban surat dari BPOM sedang kita kaji sekarang,” tutupnya. (Iqbal)

Editor : Redaksi

Related Articles

Berikan Komentar