Terkini

Kultum Bersama Imam al-Ghazali: Makna Cinta (Mahabbah)

KETAHUILAH, MAHABBAH ADALAH dampak dari tauhid dan makrifat. Semua posisi dan ahwal sebelumnya menuju kepadanya serta mengambil manfaat darinya. Adapun makrifat yang murni terhadap mahabbah yaitu segala hal yang berhubungan dengan Dzat dan sifat-sifat Allah, baik meniadakan kekurangan maupun menegaskan kesempurnaan.

Mahabbah semacam ini hukumnya wajib berdasarkan Kitab, Sunnah, dan Ijmak. Sedangkan yang memicu perselisihan yaitu berkaitan dengan hakikat dan makna mahabbah, yang tidak memiliki makna lain selain kecenderungan pada kenikmatan yang disukai.

Pahamilah, ma’rifatullah adalah mengingat Allah swt. karena hadir bersama dan menyaksikan-Nya. Salah satu tanda awalnya melalui cahaya-cahaya (lawa’ih), pendaran (thawali’), kilauan-kilauan (lawami’) kilatan (buruq). Empat kata ini memiliki makna identik. Adapun perbedaan antara cahaya dan cinta (wajd); cahaya merupakan perizinan untuk memasuki jalan tauhid. Sedangkan wajd itu menyertaimu dalam mahabbah ketika telah lama menjadi zhauq (sense).

Selanjutnya, zhauq berarti melihat dan meminum cahaya kilat yang kau saksikan. Kata al-lahzh adakah kata benda (isim) yang digunakan untuk mengungkapkan bagaimana melihat Allah dengan hati, sebagaimana sabda Nabi saw., “Sembahlah Allah seakan-akan engkau melihatnya.”  Waktu atau al-waqt merupakan kata benda yang menunjukkan waktu (isim zharaf) untuk ahwal yang ada di dalamnya.

Dengan kata lain, waktu hamba berarti sesuatu yang ia sedang berada di dalamnya. Dan an-Nafs berarti bernafasnya hamba karena tidak mampu menanggung ahwal yang datang padanya, berupa nafas yang berat beserta ucapan dan isyarat yang tengah ia alami. Karena selama masih hidup, hamba harus melakukan relaksasi melalui masuk dan keluarnya nafas. Bila nafas sudah kuat maka hal tersebut akan menyebabkannya tenggelam.

Baca juga: Kultum Bersama Imam al-Ghazali: Makna Kedekatan

Tenggelam (gharq) adalah ketidakmampuan untuk bernafas karena tertahan. Jadi, ia tidak bernafas sekaligus tidak ghaib. Jika hal ini menguasainya maka ia mengalami ketidaknampakan (ghaibah).

Adapun ghaibah adalah nama untuk menyebut kondisi kebingungan (dzuhul) dari berbagai kepentingan dikarenakan sesuatu yang lebih penting. Sedangkan mabuk (sakr) berarti nama untuk mengisyaratkan jatuhnya kendali dalam kegembiraan.

Jika ia mendapat pertolongan, ia akan sadar dan memperoleh tambahan ilmu. Sebab orang yang mabuk itu tidak naik karena sesuatu yang memabukkan menuju Allah, dan kesadaran (shahwu) hanya terjadi karena Allah.

Dengan kata lain, mabuk karena Allah adalah melihat sifat-sifat Allah, menikmati apa yang datang dari-Nya, dan merasakan kelezatannya. Dan kesadaran karena Allah, jika seseorang membebaskan diri dan nafsu, kenikmatan dan ahwal-nya.

Setelah itu, ia akan dianugerahi penyaksian Dzat, seperti sifat berdiri sendiri yang merupakan sifat-sifat ketuhanan, lalu menjadikannya fana’ dari selain sesembahannya, hingga ia fana’ dari kefana’annya.

Hakikat fana’ menurut indra berarti memudarnya materi dan aksiden hingga lebur secara total. Karena segala sesuatu selain Allah itu wujud dan tegak karena-Nya, bukan karena dirinya sendiri. Maka dari itu, wujudnya adalah wujud majazi. Sedangnya Dzat yang Berdiri Sendiri dan mendirikan yang lain maka wujudnya tetap dan hakiki.

Kata fana’ dipinjam untuk seseorang yang dimuliakan dengan makrifat. Karena pudarnya maujud di mata hatinya yang segalanya ia saksikan bersama kehendak, layaknya anak-anak yang tindakannya tidak mengandung hukum. Jika hamba ini mendapat pertolongan dan menjadi sempurna, ia naik menuju maqam keabadian (baqa’).

Sebab, jika di dalam hati sudah tidak bertahan lagi kepedulian terhadap selain Allah karena sibuk bersama-Nya, maka kondisi semacam ini disebut dengan abadi bersama Allah dan karena Allah swt. Wujud dan Baqa’ adalah dua kata yang mengandung arti sama.

Wujud untuk menyebut pencapaian terhadap hakikat sesuatu, dab baqa’ berarti masa berbagai hakikat yang digunakan untuk meraih pencapaian tersebut. Lalu pada maqam jam’u (berkumpul) seorang guru berkata, “Al-jam’ adalah hal yang menggugurkan pemisahan dan memutus isyarat,” dalam arti ia ingat karena Allah dan dari Allah.

Demikian segala puji hanya milik Allah swt.

***

*) Naskah diambil dari buku “Taman Kebenaran; Sebuah Destinasi Spiritual Mencari Jati Diri Menemukan Tuhan” yang diterbitkan Turos. Terjemahan singkat dari Kitab Raudhatu ath-Thalibin wa ‘Umdatu as-Salikin karangan Imam al-Ghazali. Penerjemah: Kaserun AS. Rahman.



Editor : Jalaludin Ega

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar