Cerpen

Cerpen Muhammad Lutfi: Perempuan Tayub

biem.co — Siswoyo masih duduk di atas becak yang sudah lama menjadi teman hidupnya. Ditambah lagi, becak itu adalah tumpuan tulang punggung untuk keluarga Siswoyo. Saban hari dia selalu duduk dan bersila di atas pangkuan kursi becak-nya yang berpangkalan di dekat lampu lalu lintas depan SMK. Setiap hari, dia antarkan anaknya pulang ke rumah setelah lelah menempuh pelajaran selama 8 jam. Ketika orang lain mengantarkan anaknya ke sekolah dengan motor dan mobil, Siswoyo masih bertenaga mengayuh pedal becaknya pergi ke jalan.

***

Siswoyo masih bergelantungan di becak. Dia bicarakan perihal isu-isu politik dan ekonomi bersama kolega-nya. Sebagai lelaki yang fisiknya mulai menua, semangat hidupnya juga mulai kendur. Otot bisep yang kekar dengan tangan yang mengepal mengangkat dan memutar arah becaknya ketika ada pelanggan yang menyewa jasanya. Jasa yang ia jalani ini dia pertaruhkan untuk hidup keluarganya semenjak berhenti menjadi penari Tayub. Seni tari asal Pantai Utara ini telah menjadi hal yang dia geluti sejak usia muda. Ibunya yang juga mantan Ledek Tayub suka mengajak Siswoyo ke acara-acara Tayub. Ibu Siswoyo kala itu terkenal sebagai penari yang anggun dan mempesona. Banyak pria yang siap untuk menghampiri dan menari Tayub di depan ibunya, lalu ibunya pakaikan selendang warna merah yang selalu diselipkan di kemben. Siswoyo sudah kenal dengan dunia Tayub sejak muda.

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Sebagai anak dari Ledek Tayub, dia diajarkan untuk mengerti bagaimana menabuh gamelan dan irama-irama tarian itu. Siswoyo diajarkan dasar-dasar bagaimana untuk menari Tayub. Di dunia seni ini pula, dia bertemu dengan jodohnya yang saat ini memberikannya seorang anak. Semenjak anak mereka sudah besar, Siswoyo dan istrinya memutuskan untuk berhenti dari dunia Tayub. Mereka punya mimpi agar anaknya tidak hidup sesuai dengan jalan seni itu. Mereka menginginkan anaknya bisa sukses mencari uang dengan cara bekerja keras, pokoknya selain dunia Tayub. Siswoyo tak ingin anaknya mendekati hal-hal yang berbau Tayub.

***

Dia masih meremas-remas rambutnya. Menggigit giginya dan menggesek-gesekkan tangannya ke dadanya. Dia urut dadanya sendiri. Menghela nafas sengal dan lelah. Akhir-akhir ini, pengguna layanan becak semakin sepi semenjak angkutan umum diberlakukan Pemerintah untuk mengurangi kepadatan jalan raya. Becak berjalan dengan pelan dan santai. Ditambah lagi dengan sepeda-sepeda dan motor-motor yang semakin banyak. Menambah kemacetan lalu lintas. Kadang, untuk mengurangi kemacetan tersebut, orang-orang nekat menerobos lampu merah yang seharusnya berhenti. Mereka menerobos lampu merah dengan sangat kesal dan santai. Seolah tidak takut dengan polisi lalu lintas yang telah berdiri di ujung jalan.

***

Dia pulang ke rumah. Dia pulang pada dekapan istrinya yang sudah menunggunya, siap untuk menerima uang belanja. Siswoyo keluarkan uang sepuluh ribu rupiah, hasil kerjanya selama pagi sampai sore. Dia bahkan tak makan sama sekali sejak pagi. Hanya minum air putih untuk mengganjal perutnya. Istrinya mengomel dengan omelan yang semakin tajam dan menepikan perasaan Siswoyo.

“Kalau kamu saban hari selalu hanya begini yang didapatkan, lama-lama aku memang harus kembali menajdi Ledek Tayub.”

“Kamu mengancam?”

“Ini bukan ancaman. Tapi realistis saja!”

Mata Siswoyo memerah. Semakin bengkak menatap tajam istrinya. Dia tahu, kalau pendapatan tukang becak semakin hari semakin tipis di tahun ini. Dia lemparkan badannya ke kasur. Diam seribu bahasa menghadapi istrinya. Di lain pihak, dia tidak bisa mempersalahkan istrinya. Uang sepuluh ribu tidak akan cukup untuk makan tiga orang manusia di rumah itu. Dia pandangi punggung istrinya yang pergi meninggalkannya dari pintu. Siswoyo memilih untuk menidurkan emosi-nya.

***

Siswoyo tidur sampai larut malam. Dia bangunkan tubuhnya. Mengusir rasa kantuk dari matanya. Seluruh ruang rumah gelap. Lampu tidak menyala. Tidak ada suara manusia. Tidak ada suara seorang istri memasak di dapur. Tidak ada seorang anak belajar di rumah. Seluruh ruang gelap. Sambil berjalan menggerayangi tembok mencari lampu, Siswoyo memangil-manggil istrinya. Tidak ada jawaban. Hanya hening dan kebekuan. Suasana makin beku.

Siswoyo mencari istrinya di dapur, di kamar, dan di teras. Tak ada sama sekali sosok istrinya itu. Dia panggil anaknya berulang kali setelah tak menemukan kehadiran istrinya. Dia pangil-panggil nama anaknya. Tak juga kunjung datang yang dipanggil. Hanya kebekuan dan hening yang semakin mengisi.

Lelaki itu berjalan mencari jejak istrinya. Dia berpikir kalau istrinya minggat setelah cekcok dengannya. Dia mencari jejak istrinya menyusuri jalan yang diterangi lampu. Dia melihat tetangganya berlari dari belakangnya. “Mau kemana, kang?” dia sapa tetangganya itu. Aku mau melihat Ledek Tayub. Ada hajatan di rumah sebelah sana. Penarinya jos gandos. Aku ingin menyawernya.” Tetangganya itu lanjut berlari meninggalkan Siswoyo yang makin kebingungan. Siswoyo mengarahkan langkah ke arah yang sama dengan tetangganya tersebut, siapa tahu dia menemukan istrinya sedang menonton acara hajatan di sana.

***

Lampu panggung menyala terang di rumah yang dimaksud oleh tetangga siswoyo. Suara diesel berisik semakin menderu, menghalangi orang-orang untuk saling mendengar pembicaraan. Siswoyo menaruh tangannya di belakang. Dia berjalan ke arah kerumunan, dimana orang-orang sedang menyaksikaan Tayub. Suara gamelan menabuh irama tubuh Siswoyo. Dia ingat saat masa-masa dulu sebagai seniman Tayub. Menari bersama Ledek-Ledek Tayub yang cantik. Kadang-kadang bisa ambil kesempatan untuk mencium Ledek-Ledek di hadapannya. Itu saat dulu. Saat dia masih muda dan bergairah sebagai penari Tayub. Hal itu pula yang diajarkan ibunya kepadanya. Ibunya tak mengajarkan untuk belajar dan mengenal pendidikan. Dia hanya diajarkan cara untuk menjadi Ledek Tayub dan menjadi sempurna sebagai penari Tayub. Raganya masih ingin menari setiap kali mendengar suara tabuhan gamelan, tetapi dia berusaha untuk menepisnya. Dia ke sini hanya untuk mencari istrinya. “Wah, penarinya mantap sekali. Aku sampai kehabisan uang. Seharusnya uang tadi untuk membayar wedang jahe. Tetapi aku lebih milih ngutang dulu untuk menari bersama Ledek Tayub yang mantap sekali itu.” Orang-orang semakin jelas ngomongin tentang Ledek Tayub yang mantap itu. “Tubuhnya masih seperti gadis. Pinggulnya masih kendor dan benar-benar menawan. Tapi ada sedikit tahi lalat di lengannya sebelah kanan.” Orang-orang masih membicarakan Ledek Tayub tersebut. Kali ini yang dibicarakan semakin intim. Tentang tubuhnya yang masih seperti gadis.

Siswoyo mulai mengerutkan dahi. Dia makin penasaran tentang Ledek Tayub tersebut. Lampu panggung menyala terang, menutupi pandangannya. Dia makin ambil jarak mendekat. Dia melihat Sadrah menari bersama Ledek Tayub yang jelita itu. Wajahnya mulai kaku. Dia mengurut dadanya. Ternyata, yang orang-orang bicarakan tentang Ledek Tayub yang jelita dan mantap itu adalah istrinya. Siswoyo langsung naik ke atas panggung. Menarik tangan Ledek Tayub yang jelita tersebut. Orang-orang yang berkerumun sesak itu mulai naik pitam. Mereka tak rela acara itu dihentikan secara paksa. Mereka menendang Siswoyo dan menyuruhnya untuk pulang saja. Ornag-orang itu masih ingin menikmati tarian yang gemulai dari Ledek tersebut.

Wajahnya memerah. Dia gesekkan gigi-giginya. Dia tak akan menang jika harus melawah puluhan orang lelaki tersebut. Dia hanya akan mati sia-sia saja jika tetap bersikeras untuk membawa istrinya pulang. Dia ambil sandalnya yang terlempar ke parit setelah di tendang oleh orang-orang. Dia pulang dengan kemarahan dna ketidak berdayaan. Dia dapati anaknya sedang tertidur pulas di depan TV.

***

Siswoyo mengabaikan anaknya. Dia lagi tak bisa berpikir. Darahnya mendidih. Dia ingin menghajar istrinya babak belur saat sampai rumah nanti. Lelaki itu mengambil sebuah rotan di atas kasur. Dia buka pintu lebar-lebar sambil menunggu kedatangan istrinya pulang.

Setelah lewat tengah malam, istrinya pulang ke rumah. Siswoyo bersiap dengan rotan dan emosinya yang membara.

“Kamu telah mempermalukanku. Bukankah aku telah melarangmu untuk melakukan itu lagi, bukankah aku telah melarangmu untuk menjadi Ledek Tayub kembali!”

“Aku melakukan ini untuk membantumu. Aku rela menjadi Ledek Tayub supaya kamu bisa makan. Otak kamu sudah miring? Realistis dong!”

“Tapi tidak dengan cara menjadi Ledek Tayub. Apalagi kulihat tadi ada Sadrah di sana. Kamu mencintainya kembali, kan?”

“Kalau bicara jangan suka ngawur. Dia hanya menari bersamaku. Dia tidak melakukan hal yang melecehkanku sebagai istri orang. Dia bisa menghormatiku.”

“Kamu sudah salah jalan.”

“Kalau aku salah jalan, maka kamu salah jalan pula. Seharusnya kamu jangan bekerja sebagai kuli becak. Tetaplah bekerja sebagai penari Tayub, supaya aku tidak kamu susahkan seperti ini.”

Pertengkaran mereka semakin menajdi. Cekcok antara suami dan istri semakin saling berani antara kedua-nya. Siswoyo ingin memukul istrinya itu dengan rotan yang sudah dia siapkan dari tadi. Dia genggam rotan itu erat-erat, dia pandangi wajah istrinya yang sedang marah itu. Wajahnya masih jelita. Dia tak tega sama sekali untuk melayangkan sebuah pukulan pada istrinya. Istrinya masih meluapkan kemarahan. Kemarahan mereka itu semakin memanas.

***

Sadrah datang dengan sendiri di antara pertikaian suami-istri tersebut. “Sadila, selendangmu lupa kau bawa pulang,” ucap Sadrah sambil mengembalikan selendang milik istri Siswoyo. Sadrah segera pulang setelah memberikan selendang itu yang dibalas dengan senyuman dari Sadila. Sadrah mengabaikan Siswoyo yang ada di rumah itu. Sadrah adalah mantan  kekasih dari Ledek Tayub yang jelita dan mantap, seperti yang dibicarakan orang-orang tadi. Ledek tayub tersebut adalah Sadila: istri Sadrah.

***

“Kamu menyukainya kembali, mengingat dia sebagai mantan kekasihmu dulu?”

“Kamu jaga ucapanmu. Aku bukan wanita seperti yang kamu pikirkan. Dia kemari hanya untuk mengembalikan selendang milikku. Beruntung saja dia mau mengembalikan selendang itu. Kalau tidak, aku harus membeli selendang lagi. Uang dari mana untuk bisa membeli selendang baru.”

“Kamu benar-benar telah munafik kepadaku. Aku benar-benar tidak percaya apa yang kamu ucapkan.”

Siswoyo makin mengelus dada. Dia mulai tak bisa lagi berpikir. Dia memilih untuk pergi meninggalkan Sadila malam itu. Dia susuri malam yang gelap gulita. Tak tahu entah kemana.

Pati, 18 Oktober 2020


muhammad lutfiTentang Penulis: Muhammad Lutfi, Sastrawan Indonesia dari Jawa Tengah. Karya-karya dari penulis dapat anda cari di toko buku. Penulis puisi, cerpen, dan novelet, serta syair. Buku-buku karya penulis: Mata Sengsara, Tabula Rasa, Serat Tri Aji, TAKA, Gugat, Aku dari East City, Pelaut.

Editor: Esih Yuliasari

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ragam Tulisan Lainnya
Close
Back to top button