KabarOpiniTerkini

PENJAGA API DI TANAH SELATAN

Oleh: Ghina Gustina Ganarsih, Pegiat Literasi, Penggerak Taman Bacaan Masyarakat, dan Penulis

Di ruang organisasi mahasiswa, diskusi sering berakhir menjelang tengah malam. Kadang perdebatan berlangsung panas. Kadang tidak menghasilkan kesimpulan apa pun. Namun justru dari ruang-ruang itulah ia belajar bahwa demokrasi tidak selalu tentang menang.”

Bara Pertama

KOLOM, biem.co – Sebelum mengenal ruang kuliah, jurnal ilmiah, atau forum-forum diskusi, Eko Supriatno terlebih dahulu mengenal jalan tanah.

Jalan itu berada di Kasomalang, sebuah kecamatan di kaki pegunungan Subang yang dikelilingi kebun teh, lereng hijau, dan jalan-jalan berbatu yang pada musim hujan berubah menjadi lumpur. Dari kejauhan terdengar suara azan menggema dari surau kampung. Pada pagi hari, kabut turun perlahan menutupi perbukitan. Di antara hamparan kebun dan jalan desa itulah semuanya bermula.

Kasomalang mungkin hanya sebuah titik kecil di peta Indonesia. Tidak banyak orang mengenalnya. Namun bagi Eko, kampung itu adalah sekolah pertama yang mengajarkannya tentang kehidupan.

Ia lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ibunya, Teti Tejaningsih, dikenal oleh warga kampung sebagai perempuan yang hampir tidak pernah marah kepada siapa pun. Di mata Eko kecil, ibunya bukan sekadar orang tua. Ia adalah guru pertama yang mengajarkan keteguhan hati.

Suatu hari, ketika ia masih anak-anak, sang ibu mengucapkan kalimat yang kelak menjadi kompas hidupnya.

“Sekolah yang tinggi. Hidup boleh susah, tapi jangan berhenti belajar.”

Kalimat itu sederhana. Namun bagi seorang anak kampung, kalimat itu seperti nyala kecil yang terus menyala dalam ingatan.

Sejak saat itu, pendidikan bukan lagi sekadar urusan sekolah.

Pendidikan adalah jalan hidup.

Di kampung itu pula Eko belajar bahwa matahari terbit lebih pagi bagi orang-orang miskin. Ia melihat petani berangkat sebelum fajar. Ia melihat ibu-ibu menyembunyikan kecemasan di balik senyum. Ia melihat anak-anak yang cerdas, tetapi tidak semuanya memiliki kesempatan yang sama.

Kampung mengajarkannya sesuatu yang tidak pernah diajarkan buku pelajaran: hidup tidak selalu adil, tetapi manusia harus tetap berjalan.

Sumbu Pengetahuan

SD Negeri Kasomalang II bukan sekolah yang akan masuk berita nasional.

Bangkunya sederhana. Dindingnya biasa saja. Halamannya tidak luas. Namun dari tempat seperti itulah mimpi sering lahir diam-diam.

Ketika teman-temannya bermain selepas sekolah, Eko sering menghabiskan waktu di rumah kakeknya, Kiai Sabili Ahmad Suriadji, seorang pensiunan kepala sekolah dasar. Di sudut rumah itu terdapat rak buku tua yang bagi Eko terasa lebih luas daripada dunia yang ia kenal.

Ia membaca apa saja yang tersedia.

Buku agama.

Buku sejarah.

Majalah lama.

Cerita rakyat.

Catatan-catatan pendidikan.

Kadang listrik padam. Namun rasa ingin tahunya tidak ikut padam. Di bawah cahaya lampu minyak yang asapnya membuat mata perih, ia tetap membaca hingga larut malam.

Buku memberinya sesuatu yang tidak dimiliki kampungnya.

Jendela.

Lewat buku, ia melihat dunia yang jauh lebih luas daripada batas sawah, perbukitan, Situ Cigayonggong, atau kebun-kebun yang mengelilingi Kasomalang.

Di kelas tiga sekolah dasar, bakat menulisnya mulai terlihat. Dalam lomba menulis tingkat kampung hingga kecamatan, ia keluar sebagai juara. Hadiahnya bukan sepeda atau uang.

Hanya sebuah permadani.

Namun bagi seorang anak kampung, hadiah itu terasa lebih besar daripada apa pun.

Ibu Lasmini dan Pak Misna, guru-gurunya, ikut bangga. Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa kata-kata dapat membuka kemungkinan yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.

Barangkali sejak saat itulah api kecil itu mulai menyala.

Api Perjuangan

Perjalanan menuju pendidikan yang lebih tinggi tidak pernah mudah.

Untuk berangkat sekolah, ia sering menunggu mobil umum di Salkiem. Jalan yang ditempuh tidak selalu mulus. Di musim hujan, lumpur menjadi bagian dari perjalanan. Di musim kemarau, debu menjadi teman sehari-hari.

Namun tantangan terbesar bukanlah jarak.

Melainkan keadaan.

Biaya pendidikan bukan perkara sederhana bagi keluarga kampung. Ada masa ketika kebutuhan sekolah harus berbagi ruang dengan kebutuhan hidup yang lebih mendesak.

Ketika memasuki dunia perkuliahan, tantangan itu semakin nyata.

Ada hari-hari ketika uang saku terasa tidak cukup.

Ada masa ketika kebutuhan akademik bertabrakan dengan kenyataan ekonomi.

Pada saat itulah Eko melakukan apa yang dilakukan banyak anak kampung: bekerja sambil belajar.

Di Pasar Rau, Kota Serang, ia pernah berjualan jeruk bersama Kang Asep Icang.

Pagi hingga siang bekerja.

Sore hingga malam belajar.

Kadang tubuh lelah.

Kadang muncul keraguan.

Kadang ia bertanya dalam hati apakah semua perjuangan itu akan menemukan jalannya.

Namun setiap kali keraguan datang, kalimat ibunya kembali terdengar.

“Jangan berhenti belajar.”

Di sela-sela kesibukan itulah ia memahami bahwa pendidikan bukanlah hadiah.

Pendidikan adalah perjuangan.

Pengalaman itu membuatnya sulit melihat kemiskinan hanya sebagai angka statistik.

Karena ia pernah berada sangat dekat dengannya.

Api Perdebatan

Ketika memasuki Universitas Mathla’ul Anwar, dunia yang ditemuinya berubah.

Kampus bukan hanya tempat belajar.

Kampus adalah pertemuan berbagai gagasan.

Di ruang organisasi mahasiswa, diskusi sering berakhir menjelang tengah malam. Kadang perdebatan berlangsung panas. Kadang tidak menghasilkan kesimpulan apa pun. Namun justru dari ruang-ruang itulah ia belajar bahwa demokrasi tidak selalu tentang menang.

Demokrasi adalah kesediaan untuk mendengar.

Indonesia saat itu sedang bergerak memasuki era Reformasi. Ruang kritik terbuka. Perdebatan politik berkembang. Gagasan-gagasan baru bermunculan.

Eko muda memilih berada di tengah arus itu.

Ia membaca lebih banyak, menulis lebih banyak, dan mendengarkan lebih banyak.

Ia menyadari bahwa kampus yang sehat bukan kampus yang sunyi.

Melainkan kampus yang berpikir.

Dari ruang-ruang diskusi itulah lahir kegelisahan yang kelak terus menemaninya: mengapa pendidikan masih timpang, mengapa politik sering kehilangan etika, dan mengapa masyarakat semakin jauh dari tradisi berpikir kritis.

Menyalakan Kata

Sebagian orang memilih kekuasaan.

Sebagian memilih bisnis.

Eko memilih kata-kata.

Pilihan itu terdengar sederhana.

Padahal tidak.

Kata-kata memiliki tabiat yang unik. Ia dapat menghibur, tetapi juga dapat menggugat. Ia dapat menyenangkan, tetapi juga dapat mengganggu kenyamanan.

Satu demi satu tulisan lahir dari tangannya. Tentang pendidikan. Tentang politik. Tentang kebudayaan. Tentang kewarganegaraan. Tentang demokrasi. Tentang manusia.

Namun sesungguhnya yang ia tulis bukan hanya tema-tema besar itu.

Yang ia tulis adalah kegelisahan.

Kegelisahan melihat pendidikan yang belum sepenuhnya adil.

Kegelisahan melihat politik yang kehilangan etika.

Kegelisahan melihat masyarakat yang semakin jauh dari kebiasaan membaca dan berpikir.

Sebagian orang mengejar kekuasaan untuk mengubah dunia. Ia memilih kata-kata karena percaya bahwa perubahan sering kali dimulai dari cara manusia berpikir.

Mungkin karena itulah ia terus menulis.

Bukan untuk menjadi terkenal.

Melainkan agar kegelisahan tidak berubah menjadi diam.

Menjaga Nyala

 Hari ini, Eko Supriatno dikenal sebagai akademisi, peneliti, penulis, dan intelektual publik di Banten.

Namun jika seseorang bertanya apa warisan terbesarnya, jawabannya mungkin bukan buku.

Bukan jabatan.

Bukan pula penghargaan.

Melainkan keyakinan.

Keyakinan bahwa pendidikan harus memerdekakan.

Bahwa kebudayaan harus dirawat.

Bahwa masyarakat harus berani berpikir.

Bahwa kritik adalah bentuk cinta yang paling jujur kepada negeri ini.

Di tengah zaman yang semakin bising, keyakinan semacam itu tampak seperti api kecil.

Tidak menyala besar.

Tidak menjadi tontonan.

Tetapi cukup untuk menerangi jalan.

Mungkin seluruh perjalanan seorang anak kampung dari Kasomalang hingga menjadi intelektual publik dapat diringkas dalam satu kalimat:

Ia tidak pernah berhenti menjaga nyala itu.

Dan selama nyala itu tetap hidup, harapan selalu memiliki tempat untuk pulang. (Red)

Editor: admin

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button