InspirasiOpini

Agar Ramadan Berbuah Taqwa

Oleh Uus Muhammad Husaini*

biem.co — Untuk ke sekian kalinya kita bertemu dengan Ramadan, bulan yang penuh ampunan dan keistimewaan. Dan untuk ke sekian kalinya juga kita melewati Ramadan demi Ramadan dengan berbagai cerita dan hasilnya. Ada yang menjadi pribadi yang lebih baik lagi pasca Ramadan, ada juga yang tak ada bedanya antara sebelum dan setelah Ramadan, bahkan ada juga yang tidak lebih baik dari sebelum Ramadan. Ini semua tergantung pada sejauh mana upaya kita dalam memaknai Ramadan. Padahal puasa diwajibkan atas kita agar kita menjadi pribadi yang bertakwa.

Allah berfirman; “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ayat tersebut di atas menjelaskan bahwa tujuan final dari disyariatkannya ibadah puasa adalah agar kita bertakwa. Namun perlu diingat bahwa ketakwaan itu bukanlah sesuatu yang gratis dan cuma-cuma diberikan kepada siapa saja yang berpuasa. Manusia-manusia takwa yang akan lahir dari “rahim” Ramadan adalah mereka yang berupaya mendapatkannya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Saw: “Betapa banyak orang yang puasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya, kecuali rasa dahaga”. Mereka inilah yang berpuasa, namun tidak melakukan pengendapan makna spiritual puasa, sehingga mereka kehilangan kesempatan untuk meraih derajat ketakwaan.

Lalu apa yang harus kita lakukan agar puasa dapat menjadikan kita insan yang bertakwa? Paling tidak ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan agar dapat meraih ketakwaan pasca Ramadan.

Pertama, memersiapkan persepsi yang benar tentang Ramadan

Bergairah dan tidaknya seseorang melakukan sebuah pekerjaan, sangat korelatif dengan sejauh mana persepsi yang dia miliki tentang pekerjaan itu. Hal ini juga bisa menimpa diri kita, saat kita memiliki persepsi yang benar tentang Ramadan, maka yang akan muncul adalah semangat dan kegairahan dalam mengisi Ramadan. Begitupun sebaliknya, saat kita tidak memiliki persepsi yang benar tentang Ramadan, maka yang akan terjadi adalah rasa malas, tidak semangat, cuek, santai dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, setiap Ramadan datang, Rasulullah mengumpulkan para sahabat untuk memberikan persepsi yang benar tentang Ramadan. Rasulullah bersabda:

Telah mengkhabarkan kepada kami Bisyr bin Hilaal, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Waarits, dari Ayyuub, dari Abu Qilaabah, dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan penuh keberkahan. Allah ‘Azza wa Jalla telah mewajibkan kepada kalian berpuasa di dalamnya, di bulan itu pintu-pintu langit akan dibuka dan pintu-pintu neraka akan ditutup, di bulan itu setan-setan jahat akan diikat. Demi Allah, di bulan itu ada malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa terhalang mendapatkan kebaikannya maka sungguh ia telah terhalang.”

Hal ini menegaskan bahwa persepsi yang benar akan mendorong kita untuk tidak terjebak dalam kesia-siaan di bulan Ramadan. Saat kita tahu bahwa Ramadan bulan ampunan, maka kita akan meminta ampunan pada sang Maha Pengampun. Jika kita tahu bulan ini bertabur rahmat, maka kita akan berlomba dengan antusias untuk menggapainya. Dan banyak lagi yang lainnya.

Kedua, membekali diri dengan ilmu yang cukup dan memadai.

Agar puasa berbuah takwa kita harus memiliki ilmu yang cukup tentang puasa itu. Tentang rukun yang wajib kita lakukan, syarat-syaratnya, hal yang boleh dan membatalkan, dan apa saja yang dianjurkan.

Pengetahuan yang memadai tentang puasa ini akan senantiasa menjadi panduan pada saat kita puasa. Ini sangat berpengaruh terhadap kemampuan kita untuk meningkatkan kualitas ketakwaan kita serta akan mampu melahirkan puasa yang berbobot dan berisi. Sebagaimana sabda Rasulullah:

“Barangsiapa yang puasa Ramadan dan mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yang semestinya diperhatikan, maka itu akan menjadi pelebur dosa yang dilakukan sebelumnya”.

Sahabat Rasulullah, Jabir bin Abdullah berkata: “Jika kamu berpuasa, maka hendaklah puasa pula pendengaran dan lisanmu dari dusta dan dosa-dosa. Tinggalkanlah menyakiti tetangga dan hendakna kamu bersikap tenang pada hari kamu berpuasa. Jangan pula kamu jadikan hari berbukamu (saat tidak berpuasa) sama dengan hari kamu berpuasa.

Ketiga, mempersiapkan fisik, agar dapat berpuasa optimal.

Untuk memasuki Ramadan kita memerlukan fisik yang lebih prima dari biasanya. Sebab, jika fisik lemah, kita bisa melewatkan keutamaan-keutamaan yang terdapat di dalamnya. Maka, sejak bulan sya’ban perlu dipersiapkan fisik yang optimal dalam menghadapi ramadhan seperti olah raga teratur, membersihkan rumah, makan-makanan yang sehat dan bergizi, dan lain sebagainya.

Keempat, mempersiapkan harta yang cukup dalam menghadapi Ramadan.

Persiapan harta ini bukan untuk dihamburkan pada saat buka puasa atau hidangan lebaran sebagaimana tradisi masyarakat kita selama ini, akan tetapi persiapan harta di sini adalah untuk melipatgandakan sedekah, karena Ramadan pun merupakan bulan memperbanyak sedekah sebagaimana Rasulullah contohkan. Pahala bersedekah pada bulan ini berlipat ganda dibandingkan bulan-bulan lainnya.

Oleh karena itu, mumpung kita masih di awal-awal bulan Ramadan, mari kita persiapkan diri kita dengan persepsi yang benar tentang puasa dan bekali diri kita dengan ilmu yang memadai agar puasa kita berbuah ketakwaan, tidak menjadi rutinitas tahunan yang hampa tanpa makna. Semoga persiapan yang memadai mengantarkan ibadah shaum dan berbagai ibadah lainnya, sebagai ibadah yang terbaik dalam sejarah Ramadan yang pernah kita lalui.


*Uus Muhammad Husaini, adalah Pengurus Forum Dosen Agama Islam Universitas Serang Raya dan Alumni Universitas Al-Azhar Mesir.


Rubrik ini diasuh oleh Fikri Habibi.

Editor : Redaksi

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *