KabarTerkini

“Zona Mati” Perairan Meningkat, Bumi Kehilangan Banyak Oksigen. Pemangku Kebijakan Harus Membuat Terobosan

biem.co – Perubahan iklim adalah iklim yang berubah akibat suhu global rata-rata meningkat. Ini berarti bahwa secara substansial iklim bumi mengalami perubahan yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Menurut laporan Environmental Protection Agency  tahun 2006, perubahan ini telah menjadi salah satu masalah lingkungan hidup di dunia dan mengancam kelanjutan sistem penyangga kehidupan di bumi. Dampak perubahan ini sangat negatif sehingga berpotensi menurunkan kualitas hidup manusia.

Dalam perubahan iklim, CO2, telah memerangkap suhu panas di atmosfer bumi. Hal tersebut berdampak pada sistem cuaca global yang menyebabkan bebagai fenomena alam terjadi, seperti curah hujan yang tak terduga hingga gelombang panas yang ekstrim.

Bumi telah melalui periode pemanasan dan pendinginan yang terkait dengan perubahan iklim berkali-kali. Hal yang saat ini menjadi perhatian utama dan disetujui oleh para ilmuwan adalah bahwa proses pemanasan yang terjadi jauh lebih cepat daripada sebelumnya, dan bahwa pemanasan yang cepat disebabkan oleh peningkatan tingkat emisi buatan manusia.

Beberapa waktu lalu didapati laporan bahwa jumlah kadar oksigen di lautan mengalami penurunan. Hal ini tentu saja mengancam kehidupan ekosistem laut. Sebagaimana dilansir UPI data terakhir menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 50 tahun telah terjadi peningkatan wilayah dengan minim oksigen di lautan terbuka sampai empat kali lipat. Bahkan wilayah-wilayah seperti muara, teluk, dan pesisir didapati dalam kondisi kadar oksigen yang rendah dan perubahannya meningkat sampai sepuluh kali lipat sejak 1950.

Data tersebut menegaskan bahwa jumlah wilayah dengan kadar oksigen rendah atau hampir tak ada oksigen makin banyak di bumi. Hal ini akan berdampak pada ekosistem dan rantai makanan di laut menjadi terganggu, khususnya pada biota-biota laut yang hidup dengan membutuhkan kadar oksigen yang cukup.

Penelitian yang dilakukan Global Ocean Oxygen Network (GO2NE), dilansir UPI, Kamis (4/1/2018), menurut Denise Breitburg, ahli ekologi laut pada Smithsonian Environmental Research Center, “Penurunan oksigen laut adalah dampak paling serius akibat aktivitas manusia di lingkungan bumi.”

Sementara menurut Vladimir Ryabinin, Sekretaris Eksekutif Komisi Oseanografi Internasional menyatakan bahwa efek gabungan dari limpahan polusi dan perubahan iklim sangat meningkatkan jumlah dan ukuran ‘zona mati’ di perairan lepas dan pesisir, di mana kadar oksigen terlalu rendah untuk mendukung sebagian besar kehidupan laut.

Ryabinin mencontohkan wilayah-wilayah yang dapat digolongkan zona mati seperti Teluk Meksiko, Great Lakes, dan Chesapeake Bay. Menurutnya setiap hari zona mati itu semakin meluas sehingga mengakibatkan organisme laut banyak yang mati.

Jika tingkat oksigen rendah maka akan memperlambat pertumbuhan populasi ikan dan hewan laut, dan membuat hewan mudah mati, dan menurut Ryabinin, wilayah seperti ini semakin banyak ditemui di permukaan bumi.

Mengantisipasi hal tersebut, para ilmuwan menyarankan agar pemangku kebijakan melakuan tindakan agresif untuk mengatasi perubahan iklim dan limbah polusi ini. Menurut mereka, pemangku kebijakan harus membuat terobosan strategi yang lebih baik untuk mengatasi residu limbah dari daerah aliran sungai, dan mengambil langkah tepat mengurangi efek emisi rumah kaca.

Meski penurunan oksigen tidak dapat dihindari, namun, salah satu langkah yang bisa dilakukan oleh manusia adalah menyelamatkan dan melindungi populasi ikan dan ekosistem laut yang paling rentan terkena dampak penurunan kadar oksigen. Karena, menurut Ryabinin, laut merupakan pemasok utama oksigen di bumi. “Sekitar setengah dari jumlah oksigen di bumi berasal dari lautan.”

Pentingnya menjaga oksigen tetap tersedia dengan baik juga karena jika lima detik saja tanpa oksigen maka bumi tidak akan sanggup menopang yang ada di atasnya, mengingat 45% lapisan kerak bumi dibentuk oleh oksigen. Maka, tanpa oksigen, tidak akan ada yang mampu menopang semua yang ada di atas bumi. (EJ)

Editor : Jalaludin Ega

Related Articles

Berikan Komentar