InspirasiOpini

Opan Ahmad Solihin: Peran Guru sebagai Agen Perubahan (Bagian 1)

Oleh: Opan Ahmad Solihin

biem.co — Kemampuan siswa saat ini jauh selangkah lebih maju dari gurunya, sebab banyak hal yang mereka ketahui dari media sosial dan lingkungan sekitar. Inilah yang menjadi salah satu indikator bahwa guru harus mampu menjadi agen perubahan.

Perubahan yang terjadi pada manusia bisa dipilah menjadi dua kategori, yaitu perubahan yang bersifat sementara dan perubahan yang bersifat permanen. Perubahan yang bersifat sementara biasanya yang berhubungan dengan perasaan (emotion), sedangkan perubahan yang permanen umumnya yang berhubungan dengan perubahan pikiran (mind-set). Maka bisa dipahami, jika ada orang ikut diklat atau pembelajaran yang ‘mengaduk-aduk’ emosi sehingga peserta sampai menangis tersedu-sedu.

Dampak perubahan yang ditimbulkan saat itu memang luar biasa, tapi biasanya tidak berlangsung lama. Begitu ia kembali ke habitatnya, ia juga akan segera kembali ke selera asal. Berbeda jika yang diubah adalah pikirannya, ketika seseorang berubah pikiran, maka dampaknya akan berjangka panjang. Lihatlah orang yang mampu mengubah kelemahan menjadi keunggulan dengan pikirannya. Mereka benar-benar mampu mengubah nasib dan hidupnya. Sebagai contoh antara lain Ucok Baba (pria “cebol” yang kemudian menjadi artis), Yati ‘pesek’ (seniman tradisional Yogyakarta yang dikaruniai hidung pesek), Lena Maria (wanita Swedia yang lahir tanpa tangan yang menjadi juara renang tingkat dunia) dan masih banyak contoh lainnya.

Perubahan itulah yang sekiranya perlu diaktualisasikan pada siswa oleh guru. Sebab saat ini merupakan zaman milenial yang melahirkan banyak istilah, perubahan sosial, perubahan berkomunikasi dan lainnya yang akhirnya muncullah istilah ‘zaman now’. Tidak hanya merubah mindset siswa, guru juga harus mampu merubah dirinya sendiri dalam menghadapi era globalisasi saat ini.

Istilah ‘zaman now’ telah merambah ke berbagai lini kehidupan masyarakat di jagat maya, tidak terkecuali ranah pendidikan sekalipun. Guru, siswa dan orangtua siswa adalah bagian insan pendidikan yang tak luput dari ketularan istilah tersebut. Istilah itu meliputi siswa zaman now, guru zaman now, dan orang tua zaman now. Mengapa istilah ‘zaman now’ juga merambah ke dalam ranah pendidikan? Hal ini tidak luput dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama di bidang informasi dan komunikasi.

Orangtua anak membekali anaknya dengan gadget mutakhir untuk sarana komunikasi, sekaligus sarana menimba informasi bermanfaat dari luar. Tujuannya agar anak tidak ketinggalan informasi dari teman-temannya. Uniknya, orangtua merasa kurang gaul dan ketinggalan zaman jika sang anak tidak memiliki gadget seperti yang dimiliki oleh anak orang lain. Otomatis sang anak akan memanfaatkan sarana tersebut sebagai media untuk memperoleh hiburan dan kesenangan, di samping media informasi dan komunikasi.

Kondisi demikian menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Pada ’zaman now’, guru tak mungkin lagi hanya sekadar memberi asupan materi pelajaran kepada batok kepala siswa. Guru akan dianggap tidak gaul atau ketinggalan zaman jika ‘alergi’ dalam penggunaan media teknologi dan informasi. Guru akan dianggap kuno jika ketinggalan informasi terkini.

Lalu, bagaimana Guru ‘zaman now’ itu? Berikut ciri dan karakternya:

Menguasai teknologi informasi

Guru perlu menguasaai perkembangan terkini dari dunia luar dirinya. Oleh sebab itu, mau atau tidak, guru perlu memiliki dan mengoperasikan berbagai gadget, laptop, dan informasi terbarukan lainnya.

Memahami seluk-beluk karakter siswa zaman now

Konflik yang terjadi antara guru dan siswa dalam pembelajaran di ruang kelas maupun di luar kelas justru berawal karena guru kurang memahami karakter siswa. Komunikasi antara guru dan murid kurang nyambung karena memainkan peran masing-masing dalam proses pendidikan.

Fleksibel dalam menghadapi murid

Guru saat ini perlu bersifat fleksibel dalam menghadapi berbagai karakter murid di ruang kelas. Fleksibel bukan berarti selalu memenuhi kemauan siswa. Akan tetapi mampu bersikap toleransi terhadap sikap dan tingkah laku siswa. Gurupun harus memberikan arahan dan hukuman yang mendidik bagi siswa yang melanggar norma dan aturan sosial, agama dan etika pergaulan.

Memilih wawasan pendidikan karakter

Seorang guru perlu mempertahan posisinya sebagai guru dan pendidik. Sebagai guru, posisinya adalah membelajarkan siswa. Bagaimana siswa dapat belajar melalui perannya sebagai motivator dan fasilitator pembelajaran. Namun sebagai pendidik, posisi guru adalah menumbuhkembangkan nilai-nilai karakter yang baik pada diri siswa. Bagaimana pun hebatnya nilai-nilai yang berseliweran di dunia internet, guru perlu memiliki wawasan tentang pendidikan karakter. Mengakomodasi nilai-nilai positif dan mereduksi nilai-nilai yang kurang baik bagi perkembangan peserta didik. (red)


Opan Ahmad Solihin, Guru PKn MTsN 1 Kota Serang.


Rubrik ini diasuh oleh Fikri Habibi.

Editor : Happy Hawra

Related Articles

Berikan Komentar