Rois Rinaldi

Cyntia dan Ki Eddy Ngobrol tentang Wayang Kancil di Museum Gubug Wayang

Oleh Muhammad Rois Rinaldi
(Redaktur Sastra Biem.co)

biem.co — Sebagaimana gaya host yang sedang hits di masa kini, Cyntia Handy di dalam diskusi online live streaming di Instagram @museumgubugwayang yang dilaksanakan pada pukul 20.00-21.20 WIB, memandu obrolan dengan suguhan yang juga kekinian.

Ia memosisikan pembicara, Ki Eddy Pursubaryanto, tidak sebagai orang yang melulu yang harus menjawab pertanyaan; itu sebuah konsep pemandu acara yang kurang digemari orang masa kini, melainkan sebagai kawan ngobrol yang menyenangkan. Sesekali Cyntia menimpali Ki Eddy, bahkan sesekali ia melemparkan wacana untuk ditanggapi Ki Eddy atau sekadar sebagai bahan pemikiran para penonton.

Ki Eddy Pursubaryanto adalah praktisi Wayang Kancil kenamaan yang hingga saat ini masih setia mengadakan pertunjukan di berbagai kota dan negara. Karenanya, dalang yang pernah mengadakan pertunjukan Wayang Kancil di Melbourne pada tanggal 29 Juli 2011 dan sering disebut sebagai penerus Ki Ledjar itu, dengan lancar memaparkan tentang nilai-nilai yang terkandung di dalam Wayang Kancil, berdasarkan pengalaman dan penghayatannya selama menjadi seorang pegiat.

Ia tidak menuturkan teori-teori kebudayaan sebagaimana lazimnya dihadirkan di dalam obrolan yang berlabel “budaya”. Ia lebih memilih menjelaskan hal-hal yang langsung berkaitan langsung dengan Wayang Kancil. Bagaimana cerita-cerita diangkat melalui berbagai lakonan wayang dan hal-hal yang menginspirasi, adalah yang tidak luput dari pembicarannya, di antaranya, cerita Water War atau Perang Air. Cerita yang kata Ki Eddy  adalah salah satu cerita yang paling ia gemari.

Water War, kata Ki Eddy, terinspirasi dari tragedi yang sering terjadi di dalam sejarah peradaban manusia, khusunya di Eropa. Sebuah konflik perebutan air tawar yang pada umumnya dibarengi atau didahului oleh sengketa wilayah dan keuntungan strategis itu dihadirkan di dalam Wayang Kancil dengan muatan nilai-nilai kesadaran tentang keseimbangan alam, rasa kemanusiaan, dan keadilan.

Paparan Ki Eddy yang santai dan kecekatan Cyntia yang tampak betul ia menguasai materi yang disampaikan oleh pembicara, membuat diskusi mingguan yang dilaksanakan setiap Jumat dengan tajuk Nongkrong Budaya Tjela Tjelo mengalir.  Bahasa yang digunakan Cyntia dan Ki Eddy terasa ringan, meski tema yang diangkat bukan sesuatu yang ringan bagi kaum milenial.

Kemengaliran itu sudah terasa sejak live streaming @museumgubugwayang dimulai.

Mulanya Cyntia menyapa para penonton dan Ki Eddy dengan tempo bicaranya yang cukup lambat dan nada bicara yang cukup dinamis, kemudian mengarah kepada obrolan tentang apa, dari mana, sejak kapan, mengapa, dan bagaimana Wayang Kancil dituturkan Ki Eddy.

Disebut Wayang Kancil, kata Ki Eddy, karena lakonannya adalah kancil.

“Jika saja lakonannya kerbau, disebut Wayang Kerbau,” begitu kata Ki Eddy ketika netizen bertanya mengapa harus Wayang Kancil, bukan yang lain.

Mengenai dari mana dan sejak kapan Wayang Kancil ada dan dikembangkan, Ki Eddy menuturkan bahwa sejarah proses penciptaan dan pengembangan Wayang Kancil sangat panjang. Dalam perjalanannya, Wayang Kancil timbul tenggelam sejak melewati abad 15, di mana Sunan Giri menggunakan tokoh peraga berupa binatang kancil dalam pewayangan yang ia ciptakan sebagai sarana untuk menyebarkan ajaran Islam di Jawa dan Lombok.

Wayang Kancil dibudayakan kembali oleh Bo Liem, seorang turunan Tionghoa pada tahun 1925. Sempat kembali ramai ketika itu, sebelum pada akhirnya kembali tenggelam di tengah hiruk-pikuk perkembangan zaman.

Wayang Kancil mengalami surut peminat dan pegiat setelahnya. Hampir-hampir hilang dari denyut nadi kebudayaan persada Indonesia. Sebelum pada akhirya Ki Ledjar Subroto, seorang lelaki kelahiran Wonosobo, meneruskan warisan kebudayaan itu dengan berbagai kebaruan yang ia tawarkan kepada khalayak. Kebaruan-kebaruan yang dilakukan Ke Ledjar terbukti dapat memunculkan kembali eksistensi Wayang Kancil hingga saat ini.

Meski Ki Ledjar bukan pencipta dan bukan orang pertama yang membudayakan Wayang Kancil dengan berbagai aspek yang diperbarui, karena sebelumnya Raden Mas Sayid pun  menyempurnakan bentuk Wayang Kancil dan dipentaskan dengan menggunakan layar berupa kain putih (kelir) untuk menangkap bayangan wayang, peranan Ki Ledjar Subroto sangat signifikan sejak Wayang Kancil dikembangkan kembali di Yogyakara pada tahun 1980.

Menurut pengakuan Ki Eddy, pada saat itu, penggemar pertunjukan wayang hanya dari kalangan orang dewasa. Mengingat durasi pertunjukan wayang umumnya berjalan semalam suntuk, jika pun ada anak-anak yang menonton, ketika mendekati jam larut, 21.00, anak-anak dijemput ibunya untuk segera pulang lalu tidur. Anak-anak tidak dapat menyaksikan sampai selesai. Nilai-nilai yang diserap tidak utuh.

Karena itu, Ki Eddy menegaskan bahwa kehadiran Wayang Kancil, yang oleh Ki Ledjar perwatakan kancil yang licik diubah menjadi kancil cerdas dan suka menolong, adalah jalan lain mendekatkan anak-anak kepada kebudayaan Indonesia: nilai persahabatan, kepedulian lingkungan, hubungan sosial masyarakat, dan nilai-nilai positif lainnya.

Nilai-nilai itu dapat diserap secara utuh karena durasi pertunjukan Wayang Kancil hanya 45 menit sampai 1 jam. Kadang-kadang memang lebih dari itu, tapi maksimum hanya sampai 3 jam.

Menarik sekali mendengar pemaparan Ki Eddy. Sebelum menonton siaran langsung itu, saya tidak pernah mendengar tentang Wayang Kancil, meski sesekali saya membaca juga ihwal pewayangan. Namanya sesekali, sudah barang tentu tidak intens. Tidak sampai pengetahuan saya kepada Wayang Kancil. Tetapi sekali menyimak Ki Eddy, pikiran saya dapat mengikutinya. Saya terdorong untuk mencari-cari referensi, karena ada beberapa pertanyaan yang belum saya ajukan dan harus segera dijawab.

Dalang Mencari Penonton

Obrolan antara Ki Eddy dan Cyntia tidak terlalu banyak masuk pada wilayah teknis seperti perkeliran, musik gamelan, gedebog, seperangkat wayang, kepyak, cempala, dan platukan, dan sebagainya. Obrolan keduanya yang disaksikan oleh puluhan penonton lebih ke arah konsep umum dan tantangan-tantangannya.

Hal tersebut dapat dimaklumi, sebab untuk menunjukkan detail Wayang Kancil tidak mungkin dapat dilakukan dalam hitungan jam. Minimal obrolan tersebut dapat menjadi pengantar yang baik bagi orang-orang awam, pelengkap pengetahuan bagi yang telah mengetahuinya, dan pengingat serta pemantik semangat bagi orang-orang yang sememangnya mengerti betul tentang Wayang Kancil, baik pengamat maupun pegiatnya.

Mendekati waktu-waktu akhir obrolan, Ki Eddy mengakui tantangan yang ia hadapi yang juga menjadi tantangan bagi dalang lainnya.

“Kini para dalang harus mencari penonton,” ujar Ki Eddy. “Para penonton Wayang Kancil sudah dewasa, bahkan sudah tua, Kita harus mencari penonton-penonton baru. Generasi milenial harus dirangkul.”

Setelah ia menggambarkan bahwa perkembangan zaman yang sangat pesat dengan tawaran multimedia dan game mengalihkan dunia anak-anak, ia mengingatkan para dalang agar bereksperimen. Perubahan adalah niscaya, karena itu seniman yang pada dasarnya kreatif sudah seyogyanya mampu menjawab tantangan zaman.

Terlebih, kata Ki Eddy, orang zaman sekarang pada umumnya memiliki kesibukan tingkat tinggi. Dari pagi hingga petang, sehari-harinya, orang berada di dalam rutinitas belajar dan bekerja. Sehingga, hal yang tidak dapat diabaikan adalah menentukan waktu pertunjukan yang tepat, yakni waktu yang sangat luang.

Saya tidak tahu apa yang dimaksud Ki Eddy waktu yang luang itu, sebab ia tidak menejelaskan secara rinci. Ia hanya mengatakan, jika tidak tepat waktu dan ruang yang digunakan untuk mengadakan pertunjukan, kemungkinan mendapatkan penonton sangat kecil.

Cyntia dengan segera  menanggapi ujaran Ki Eddy itu dengan pernyataan menarik: “Kalau membahas budaya kita tidak pernah berbicara tentang aku atau tentang kamu, tapi tentang kita. Kita bersama. Kenapa budaya kita seperti ini? Kita bertanya kepada siapa? Salah siapa? Salah anak muda yang tidak meneruskan atau orangtua yang tidak mengajarkan? Jika harus ada yang disalahkan, semuanya salah. Karena itu, kita harus bergandeng tangan.”

Pernyataan Cyntia disetujui oleh Ki Eddy, “Iya, betul,” katanya sambil tersenyum.

Obrolan kembali mengalir.

Di tengah obrolan, netizen memberi respons, baik yang sekadar menyatakan kehadiran dengan berkomentar “Maju terus budaya Indonesia”, maupun yang mengajukan pertanyaan. Tetapi karena  Cyntia harus memastikan diskusi berjalan dengan asyik, hanya beberapa respon yang dapat dibacakan olehnya untuk kemudian ditanggapi oleh Ki Eddy. Di antaranya, ada yang mengajukan pertanyaan yang sebenarya telah dijelaskan pada awal live streaming.

Hal tersebut lazim dalam dunia diskusi virtual. Tidak semua orang benar-benar mengitu sejak awal atau menyimak sejak awal, tapi jaringan internet tidak lancar sehingga banyak bagian yang tidak dapat disimak.

Sebagai host, Cyntia terlihat santai saja. Sesekali ia menyelipkan pesan untuk kalangan milenial agar peduli pada tumbuh kembang kebudayaan. Ki Eddy yang juga santai dan mengesankan kerendahhatian daalam setiap pemaparannya sering mengangguk dan tersenyum, tanda menyetujui pesan-pesan Cyntia.

Pameran Virtual dan Pertemuan Hari Jumat

Waktu selama 1 jam 20 menit terasa terlalu cepat. Setelah melewati durasi 1 jam yang ditandai dengan terputusnya live streaming karena sistem Instagram yang otomatis menghentikan live streaming setiap satu jam, obrolan berakhir.

Cyntia memberikan informasi bahwa Museum Gubug Wayang akan mengadakan pameran virtual yang menghadirkan Wayang Kancil Ki Ledjar Subroto setiap hari Sabtu.

“Karena jumlah wayang  Ki Ledjar ada 100,” ujar Cyntia. “Tidak semua dipamerkan dalam satu waktu. Setiap Sabtu kami akan memamerkan secara virtual sebanyak 20 wayang.”

Mengenai obrolan Jumat depan, Cyntia memberikan clue mengenai siapa narasumber yang akan diundang untuk bersama-sama live streaming. Katanya, seperti apa sesungguhnya Wayang Kancil di mata anak-anak. Tanpa menyebutkan nama narasumber yang akan diundang Jumat depan, ia memastikan bahwa diskusi 10  Juli mendatang tidak kalah menariknya dari diskusi hari ini, 3 Juli 2020.

“Ketemu lagi di Nongkrong Budaya Tjela Tjelo minggu depan di hari dan jam yang sama,” ujar Cyntia yang disusul oleh Ki Eddy yang menyapa netizen sembari undur diri.

Perlu dan Penting

Ini kali pertama saya mengikuti live streaming di Instagram @museumgubugwayang. Saya merasa perlu untuk mengikuti jadwal-jadwal yang disampaikan Cyntia. Saya tertarik untuk melihat bentuk rupa pameran virtual yang dimaksud olehnya dan saya penasaran, 100 wayang kulit Ki Ledjar bentuknya seperti apa.

Tentu saja saya juga tertarik untuk mengikuti diskusi-diskusi ihwal pewayangan di sana. Narasumbernya berbeda-beda setiap minggunya, begitu kata Cyntia. Akan banyak hal yang menarik nih, pikir saya.

Banten, 2020

Editor : Happy Hawra
Tags

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button