Cerpen

Cerpen Fajri Azhari: Lelaki dan Nasi

biem.co – Di kantin hotel teman-teman disekelilingku menatap heran padaku. Tidak, mereka menatap isi piringku; sayur, lauk, dan gorengan. Tak ada nasi. Mereka saling bertukar pandang dan bertanya padaku, “Apa kau kenyang makan seperti itu?”

Teman-temanku makan lahap setelah makan siang mereka tertunda. Sebagai pegawai dapur hotel kami harus mendahulukan urusan perut para tamu hotel dan memastikan mereka terlayani dengan baik. Teman-temanku menyendok nasi sepuasnya hingga gunungan nasi memenuhi isi piring. Tapi lauk dan sayur ada hitungannya. Ibu kantin memberikan porsi sesuai yang telah dijatahkan.

“Mengapa kau tak makan nasi? Kau sakit atau sedang diet?”

“Kita bukan pegawai kantor hotel. Kita bekerja di dapur hotel. Kerja kita butuh lebih banyak energi.”

“Aku tahu kau sudah kenyang. Kau pasti sudah cicip-cicip makanan di dapur hotel sebelum dibawa keluar.”

Aku iri pada teman-temanku karena masih bisa makan nasi. Padahal, ketika kita terlalu lama menunda makan akibat banyak kerjaan, meski lapar, kita akan tiba-tiba kehilangan selera makan. Baru beberapa suap bahkan kita akan merasa mual. Akan tetapi, teman-temanku mampu menandaskan isi piringnya masing-masing. Apakah rasa mualku belakangan ini diakibatkan waktu makanku selalu tertunda?

Tiga bulan belakangan, sejak aku bekerja di hotel bintang empat, nasi absen dari menu hidanganku. Tidak seperti teman-teman perkirakan, aku sama sekali tak bermaksud pilih-pilih makanan dan badanku juga sehat-sehat saja. Cukup beruntung, meski aku tak makan nasi selama tiga bulan, berat badanku stabil. Tidak naik, tidak juga turun. Yang membingungkan adalah, tiap kali makan nasi, perutku tiba-tiba mual. Nasi itu seolah berontak dalam lambungku, hingga akhirnya aku muntah-muntah. Aku curiga mungkin ada sedikit kesalahan dalam organ cernaku.

“Hari ini aku mau izin pulang cepat,” kataku kepada teman-teman. “Sepertinya ada yang salah dengan perutku. Aku harus ke dokter.”

Beruntung hari ini tidak banyak acara, sehingga dengan alasan tepat, aku diizinkan pulang satu jam lebih cepat daripada seharusnya. Seandainya hari ini hotel dipadati acara pertemuan atau disibukkan pesta besar, mungkin izin itu tak aku dapatkan. Meskipun tak ada upah lembur, kami akan ditahan dan terpaksa merelakan waktu istirahat kami. Karena kami sering dicekoki arti loyalitas, tanpa paksaan keras, kami akhirnya lembur. Pada suatu kali, saat pesta pernikahan dengan undangan nyaris seribu orang, kami bekerja selama lima belas jam tanpa jam istirahat, tanpa upah lembur. Ujung-ujungnya, meski demi loyalitas, kami semua akan mengeluh dan harus puas dengan ucapan terima kasih.

Di klinik, setelah aku menyampaikan keluhanku kemudian diperiksa dengan alat-alat kedokteran standar, dokter itu tampak kurang yakin dengan diagnosanya sendiri. Ia bilang tekanan darah dan detak jantungku normal.

“Tidak terlalu aneh orang Indonesia tidak suka makan nasi,” ujarnya. “Tapi biasanya mereka masih bisa makan nasi goreng atau nasi uduk. Bahkan saya sendiri, kalau tanpa lauk dan sayur, tidak suka makan nasi putih.”

Dokter itu tertawa, tetapi apa yang dianggapnya lucu tak bisa membuatku ikut tertawa.

“Bukan tidak suka, dokter, tetapi saya tidak bisa.”

“Toh, apa bedanya? Kamu tetap tidak makan nasi.”

Diagnosanya tidak cukup memuaskanku. Ia memberikanku obat alergi dan anti mual. Hal biasa seseorang alergi terhadap makanan laut atau ikan asin. Namun adakah orang alergi nasi dengan segala macam olahannya sementara sebelum-sebelumnya nasi tak berakibat apa-apa pada tubuhnya? Seandainya diagnosa dokter itu tepat bisa jadi aku adalah kasus pertama.

Mengingat kerjaku cukup berat mungkin aku perlu istirahat satu dua hari. Semoga saja dengan adanya libur tambahan membuatku kembali segar. Namun, berstatus pekerja harian di hotel aku mesti berpikir ulang. Aku tak mau gara-gara ‘alergi nasi’ jumlah hari kerjaku bulan ini berkurang. Itu sangat berpengaruh pada upah yang aku dapatkan. Dengan pertimbangan, bahwa aku harus mampu memenuhi kebutuhan bulanan dan harianku, kalau bisa bebas dari hutang, surat dokter tak jadi aku minta.

Di kos-kosan aku menunda minum obat setelah makan. Induk semang mengizinkan para penghuni kos di sini menggunakan dapurnya. Kebijakan ini cukup membantu meski kami juga mesti tahu diri; gas elpiji tidaklah gratis. Maka dari itu kami sesekali saja menggunakan dapur ini. Induk semang sempat melirik padaku saat merebus air.

“Jangan makan mie melulu,” ia mengingatkan. “Tidak sehat.”

******

Sekali lagi aku membuang sisa buffet makan siang tamu hotel. Chef hotel biasanya tidak peduli apakah makanan sisa buffet tersebut dibuang atau tidak. Ia baru bersikap galak kalau kerja kami lambat, menyajikan hidangan asal-asalan kepada para tamu dan tak mengikuti standar. Kalau tamunya maklum dapat segera diselesaikan, tapi kalau tamunya cerewet urusan bakal lebih merepotkan. Ulasan buruk akan memenuhi akun media sosial hotel.

Selama di dapur hotel kru dapur dilarang makan kecuali sekadar cicip-cicip untuk memastikan ketepatan rasa. Seandainya chef memergoki kami makan, meskipun itu sesuap makanan sisa buffet, ia akan tegas menegur, tetapi ia tidak marah. Mungkin ia juga sadar bahwa tidak baik membuang makanan, namun pada saat bersamaan ia wajib menegakkan peraturan kerja kepada para bawahannya di dapur.

Karena ia tidak marah, kami jadi malu. Sungguh rasa malu itu lebih menyiksa daripada rasa takut. Rasa takut akhirnya selalu menimbulkan pemberontakan, tapi rasa malu membuat kita menjadi patuh. Sehingga ketika ia muncul tiba-tiba di depan saat kami asyik mengunyah, kami akan langsung menelannya bulat-bulat dan pura-pura tak terjadi apa-apa.

Merasa sayang buang-buang makanan dan tak mungkin juga disajikan kembali kepada para tamu, aku biasanya menyisihkan makanan sisa itu ke piring lain dan menyimpannya kembali ke rak dapur. Itupun menu lauk dan sayurnya saja. Sementara nasi beserta jenis olahannya, sambil menggumam pelan “maaf, maaf” seperti merafal doa, aku buang langsung ke tong sampah. Apakah nasi itu menangis minta dimakan?

Aku merasa iba pada diri sendiri; sebelum merantau ke ibukota sempat aku menjemur nasi sisa kemudian memasaknya kembali. Seandainya diizinkan aku ingin membungkus makanan sisa itu dan membagikannya kepada tetangga kos-kosanku. Mengapa aku membuang nasi itu sementara lauk dan sayurnya aku sisihkan? Kalian tahu, karena tak dimakan, ujung-ujungnya lauk dan sayur sisa itu pasti berakhir di tong sampah juga. Apakah aku juga berdosa pada mereka?

Mereka adalah salah satu tipikal keluarga kecil di ibukota. Saat pulang sore kadang aku melihat si suami menggendong karung besar sambil mengorek-ngorek tempat sampah. Saat pulang malam aku mendapati ia beserta anak istrinya tidur di trotoar jalan beralaskan kardus bekas. Sungguh keluarga harmonis dan prihatin. Apakah hari itu mereka makan layak? Tiap kali aku buang nasi dan makan nasi, mata sendu mereka tak habis-habisnya menerorku

“Saatnya istirahat,” kata atasanku saat aku sibuk beres-beres dan tak sadar dengan arah jarum jam. “Kerja tidak akan ada habisnya. Tunda saja dulu.”

Aku menenggak obat-obat itu seperti yang telah dokter resepkan. Di kantin teman-temanku heran melihat aku mengambil segunung nasi, sama herannya saat melihat aku makan tanpa nasi. “Tak biasanya kau makan banyak,” kata mereka.

Jantungku berdebar-debar. Ini seperti percobaan pertama dan penentuan apakah aku berhasil atau tidak. Semoga saja obat dari dokter itu manjur, sehingga aku dapat makan nasi seperti biasanya. Pelan-pelan aku mengunyah sesendok nasi dalam mulutku dan hati-hati menelannya. Sesaat aku menunggu reaksi bubur nasi itu di dalam perutku. Tak terjadi apa-apa. Namun, ketika hendak menyuap kembali, tiba-tiba perutku bergolak dan nasi telananku seperti ditarik-tarik kembali ke atas. Mulutku terasa asam. Sebelum aku muntah di atas meja, aku berlari ke arah wastafel kantin sambil memegang mulut dan perutku. Di situ aku tersedak-sedak dan mengeluarkan semua yang telah aku telan. Saat itu juga mata keluarga kecil itu memelototiku seolah-olah menuntut sesuatu dariku.

Tiga hari kemudian, setelah berpikir masak-masak, aku putuskan berhenti kerja. Meski tubuhku baik-baik saja, tanpa nasi, aku takkan merasa kenyang seperti halnya kebanyakan orang. Yang biasanya aku makan mie campur nasi, tak mungkin aku menjadikan mie sebagai pengganti nasi. Aku tahu ini takkan berhasil selama aku bekerja di hotel ini. Seandainya aku keluar dari hotel ini mungkin tatapan teror keluarga kecil itu juga lenyap dari isi kepalaku.

Surat pengunduran diri itu aku serahkan langsung pada atasanku di dapur. Ia sempat menyesali keputusanku namun akhirnya ia menerima. Ia memintaku menyerahkan surat itu kepada kepala HRD langsung di kantornya di bawah. “Ia akan mengurus pengunduran dirimu,” katanya, “karena kau kerja di sini juga atas pertimbangannya.”

Saat istirahat kerja aku mengetuk pintu kantor kepala HRD. Ketika ia menerima surat pengunduran diriku, ia minta aku memikirkannya kembali. Ia menilai bahwa aku adalah pekerja baik dan rajin. Ia menyukai itu karena jarang orang betah menempati posisi kerjaku saat ini di sini. Sulit mencari penggantiku. Seringkali baru masuk satu dua hari mereka langsung keok.

“Sangat disayangkan kau berhenti kerja,” ucapnya iba. “Kalau kau bertahan, menjaga kualitas kerjamu, dan punya kemauan belajar, kamu tidak akan mencuci piring terus. Kamu bisa menjadi juru masak.”

Akan tetapi tanpa pendidikan sekolah, batinku berkata, aku takkan pernah bergelar chef.

“Saya ingin pulang ke kampung,” kataku. “Ibu-bapak saya adalah petani. Saya ingin minta maaf pada mereka. Saya takut kelak menyesal.”

“Saya mengerti,” akhirnya ia maklum. “Orangtuamu sudah tua. Mereka pasti membutuhkan seorang anak di sisi mereka. Sudah kewajiban seorang anak merawat orangtua mereka.”

Pengunduran diriku akhirnya disetujui. Keesokan harinya teman-teman menyempatkan diri mengunjungiku di kos-kosan dan membantuku mengepak barang-barang. Mereka mengakui merasa kehilangan kalau aku tak bekerja lagi di hotel.

“Apa rencanamu di kampung?” tanya mereka.

Aku mengangkat bahu dengan enggan. “Tidak tahu,” kataku. “Aku pikir menjadi pengangguran lebih terhormat.”

Klapanunggal, 1 November 2019


Tentang Penulis: Fajri Azhari lahir di Bogor, 27 Juli 1988. Pria berusia 30+ tahun ini tinggal di Jalan Cagak-Desa Klapanunggal RT 04/01, Klapanunggal-Bogor 16820. Ia telah menulis ratusan judul cerpen dan beberapa judul novel. Karyanya juga dapat dibaca melalui blog pribadinya di fajhariadjie.blogspot.com. Biar bisa lebih dekat dengan penulis dapat dihubungi di alamat email ini [email protected].

Editor : Esih Yuliasari

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button