Hiburan

‘Rapijali’ Jadi Manuskrip Tersulit Dee Lestari

biem.coSobat biem, Dee Lestari telah merilis buku terbarunya yang berjudul Rapijali. Sebelum hadir dalam buku cetak, buku tentang kisah romansa anak SMA ini terlebih dahulu tayang di platform digital Storial.co dalam bentuk cerita bersambung (cerbung).

Bagi penyanyi Malaikat Juga Tahu ini, Rapijali menjadi manuskrip tersulit yang pernah ia kerjakan, meski tak membutuhkan riset mendalam seperti novel-novel lainnya.

“Karena dia punya ensemble karakter yang sangat banyak. Plot pertama ada Ping dengan dunia SMA-nya, tapi di dalam Rapijali bukan hanya drama SMA, ada drama orangtuanya juga. Itulah yang kemudian dalam sinopsisnya disebutkan tentang politik, keluarga, yang semua ini didapatkan dari lini berikutnya,” ungkap Dee dalam siaran langsungnya di Instagram, Selasa (2/2/2021).

Tak cuma karakter Ping dan drama keluarga yang dihidupkan dalam novel ini, Dee juga berupaya menghidupkan Rapijali sebagai buah proses grup band yang digeluti Ping.

“Di drama SMA-nya sendiri masih ada satu entitas lagi, Rapijali itu sendiri. Yang mana bisa aku bilang bahwa Rapijali itu nama grup band. Si grup band ini sendiri punya proses perkembangan yang berbeda. Jadi, ini kayak mengerjakan tiga cerita sekaligus,” ujarnya.

Dee juga menyebut unsur-unsur kreasi lainnya pun menjadi alasan mengapa novel ini memerlukan proses pengerjaan yang sulit dan waktu yang cukup lama.

“Ada unsur-unsur yang punya kreasi di dalam kreasi. Misalnya membuat sebuah lomba, itu kan aku membuat lomba tahapnya seperti apa. Lalu ketika si karakter membuat lagu, aku juga enggak bisa bikin lagu asal-asalan begitu saja, asal tempel kata tanpa mengetahui atau mendengar sendiri lagu itu seperti apa. Jadi, aku harus menulis lagu. Ini menuntut kreativitas yang luar biasa,” terang penulis buku Supernova ini.

Oleh karena itu, Dee mengatakan bahwa novel yang ia tulis sejak tahun 1993 ini menghadirkan tantangan baru bagi dirinya sendiri, yang tentu saja berbeda dari buku-buku sebelumnya.

“Kalau di Aroma Karsa, tantangan bagiku sendiri adalah bagaimana mengungkapkan aroma dalam tulisan. Nah, di Rapijali ini menghadirkan tantangan baru. Bagaimana mengungkapkan musik dalam tulisan, karena mendengar musik sama menjelaskan musik dua hal yang sangat berbeda. Aku bisa menikmati musik tanpa harus menganalisisnya per kata, tapi bagaimana kemudian pembaca bisa ikut merasakan hanyut dalam sebuah musik tanpa mendengar. Mereka kan cuma baca tulisannya aja, dan itu dibutuhkan skill dan eksplorasi yang beda lagi,” pungkasnya. (hh)

Editor : Redaksi

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button